Berita  

Dominasi Ikan Sapu-sapu di Ciliwung: Ancaman Ekologis, Peluang Ekonomi, dan Tindakan Pemerintah

Dominasi Ikan Sapu-sapu di Ciliwung: Ancaman Ekologis, Peluang Ekonomi, dan Tindakan Pemerintah
Dominasi Ikan Sapu-sapu di Ciliwung: Ancaman Ekologis, Peluang Ekonomi, dan Tindakan Pemerintah

Keuangan.id – 23 April 2026 | Populasi ikan sapu-sapu (pleco) di aliran Sungai Ciliwung telah berubah menjadi indikator utama kesehatan lingkungan. Keberadaan spesies invasif ini bukanlah tanda keberagaman hayati, melainkan sinyal kuat bahwa ekosistem sungai sedang berada dalam kondisi kritis.

Dominasi Spesies Invasif di Ciliwung

Menurut ahli perikanan IPB University, Prof Yusli Wardiatno, ikan sapu-sapu kini menjadi spesies yang paling mudah ditemui sepanjang sungai. Data riset menunjukkan peningkatan populasi sekitar 24 kali lipat dalam 14 tahun terakhir, dari 12 ekor pada tahun 2011 menjadi 287 ekor pada survei 2023‑2024. Kondisi air yang rendah oksigen, keruh, serta tercemar logam berat seperti timbal, kadmium, dan merkuri menciptakan habitat yang tidak layak bagi ikan air tawar lokal, namun justru menguntungkan bagi sapu-sapu yang memiliki toleransi ekstrem.

Tanpa predator alami, kulit keras ikan ini membuatnya sulit dimangsa, sehingga populasinya berkembang tanpa kontrol biologis. Dominasi ini mengakibatkan hilangnya keanekaragaman ikan asli Jawa yang sebelumnya banyak dijumpai di sungai-sungai Jawa.

Upaya Pemerintah: Penangkapan Massal dan Rencana Regional

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah melakukan penangkapan massal di lima kota administratif pada 17 April 2026, menghasilkan total 68.800 ekor dengan berat sekitar 5,3 ton. Jakarta Selatan mencatat tangkapan tertinggi, yaitu 63.600 ekor atau sekitar 5,3 ton, di kawasan Pintu Air Outlet Setu Babakan. Wilayah lain seperti Jakarta Timur, Pusat, Utara, dan Barat masing‑masing menghasilkan ribuan ekor dengan berat jauh lebih kecil.

Selain itu, DKI Jakarta sedang merumuskan wacana kerja sama dengan daerah penyangga Bogor, Depok, dan Bekasi untuk memperluas jangkauan pengendalian. Koordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Peraturan Menteri KKP Nomor 19 Tahun 2020 diharapkan dapat menghasilkan regulasi yang mencakup seluruh Indonesia, bukan hanya wilayah ibu kota.

Dimensi Ekonomi: Mata Pencaharian Warga

Bagi sebagian warga pinggiran sungai, terutama nelayan informal, ikan sapu-sapu menjadi sumber pendapatan. Seorang nelayan bernama Ajum mengungkapkan bahwa ia dapat menangkap 15 kilogram per hari pada kondisi air normal, dengan harga pasar antara Rp15.000‑Rp18.000 per kilogram. Pendapatan hariannya berkisar Rp100.000‑Rp150.000, namun sangat fluktuatif tergantung debit dan kondisi banjir.

Hasil tangkapan biasanya dijual ke pengepul untuk diolah menjadi produk makanan seperti cilok, nugget, otak‑otak, dan kerupuk. Meskipun demikian, para ahli memperingatkan risiko kesehatan karena logam berat yang terakumulasi di jaringan ikan dapat kembali masuk ke rantai makanan bila tidak diproses dengan standar kebersihan yang ketat.

Risiko Kesehatan dan Lingkungan

Penelitian laboratorium mengungkapkan kadar logam berat pada daging ikan sapu-sapu sering melampaui ambang batas aman untuk konsumsi manusia. Jika ikan diproses menjadi pupuk atau pakan ternak tanpa prosedur pengolahan yang tepat, logam berat dapat kembali mencemari tanah dan hewan, memperpanjang dampak polusi.

Selain itu, keberadaan massal ikan mati yang tidak diangkat dapat menambah beban pencemaran air, karena jaringan ikan mengurai menghasilkan bahan organik yang menurunkan kadar oksigen lebih jauh.

Langkah Jangka Panjang dan Rekomendasi

Para pakar menekankan bahwa penangkapan massal hanyalah solusi sementara. Perbaikan kualitas air sungai melalui pengelolaan limbah domestik, industri, dan limpasan perkotaan menjadi langkah esensial. Edukasi publik untuk menghentikan pelepasan ikan peliharaan ke alam bebas juga krusial, mengingat sebagian besar populasi sapu-sapu berasal dari praktik ini.

Pengembangan teknologi pemantauan kualitas air, restorasi vegetasi riparian, dan penanaman spesies ikan lokal yang lebih tahan terhadap pencemaran dapat mempercepat pemulihan ekosistem. Sinergi antara pemerintah, akademisi, dan komunitas setempat diperlukan untuk menciptakan kebijakan yang berkelanjutan serta membuka peluang ekonomi alternatif yang tidak bergantung pada spesies invasif.

Dengan menggabungkan upaya penangkapan terkontrol, pemanfaatan hasil tangkapan yang aman, dan perbaikan struktural kualitas air, harapan untuk mengembalikan keberagaman ikan asli di Sungai Ciliwung menjadi lebih realistis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *