Keuangan.id – 12 Maret 2026 | Jakarta – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mengumumkan hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada 9 Maret 2026. Perseroan memutuskan pembagian dividen tunai sebesar Rp13,03 triliun dan program buyback saham maksimal Rp905,48 miliar. Keputusan ini menandai komitmen BNI dalam memberikan nilai optimal kepada pemegang saham sekaligus memperkuat struktur permodalan perusahaan.
Rincian Pembagian Dividen
Dividen yang akan dibagikan mencakup seluruh pemegang saham yang tercatat pada tanggal pencatatan (recording date) 26 Maret 2026. Setiap lembar saham BNI berhak menerima dividen tunai sebesar Rp349,41, setara dengan 65% dari laba bersih konsolidasian tahun buku 2025 yang tercatat sebesar Rp20,04 triliun (bervariasi dengan laporan lain yang menyebutkan Rp20,40 triliun). Dengan asumsi harga penutupan saham pada 10 Maret 2026 sebesar Rp4.280, potensi dividend yield berada di kisaran 8,1%.
Jadwal Penting Dividen dan Buyback
- 17 Maret 2026 – Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi (akhir periode perdagangan dengan hak dividen).
- 25 Maret 2026 – Ex dividen di pasar reguler dan negosiasi (awal periode perdagangan tanpa hak dividen).
- 26 Maret 2026 – Cum dividen di pasar tunai dan sekaligus recording date.
- 27 Maret 2026 – Ex dividen di pasar tunai.
- 7 April 2026 – Pembayaran dividen tunai kepada pemegang saham.
Program buyback saham akan dilaksanakan setelah periode ex dividen, dengan batas maksimal Rp905,48 miliar. Tujuan utama buyback adalah meningkatkan likuiditas saham, memperbaiki rasio kepemilikan, serta memberikan sinyal positif kepada pasar.
Laba Bersih dan Kinerja Keuangan 2025
Selama tahun 2025, BNI mencatat laba bersih konsolidasian sebesar Rp20,04 triliun, turun 6,63% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp21,46 triliun. Meskipun laba bersih mengalami penurunan, pendapatan bunga bersih tetap stabil di sekitar Rp40,33 triliun. Neraca BNI menunjukkan penguatan signifikan, dengan total aset tumbuh 20,53% menjadi Rp1.362 triliun dan ekuitas meningkat 5,88% menjadi Rp176,34 triliun. Kinerja ini menegaskan fundamental keuangan BNI yang tetap solid meski menghadapi tantangan makroekonomi.
Implikasi bagi Investor
Dividen sebesar Rp13,03 triliun menjadikan BNI sebagai salah satu perusahaan publik dengan pembayaran dividen tertinggi di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2025. Investor ritel dan institusi dapat mengharapkan aliran kas masuk pada awal April 2026, sementara program buyback diharapkan dapat menekan harga saham secara moderat dan meningkatkan earnings per share (EPS) di masa mendatang.
Untuk pemegang saham yang menyimpan efek di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dividen akan ditransfer melalui rekening dana nasabah (RDN) pada perusahaan efek atau bank kustodian masing-masing. Sementara bagi pemegang saham yang tidak berada dalam penitipan kolektif KSEI, pembayaran akan dilakukan secara langsung ke rekening bank pribadi.
Reaksi Pasar
Sesi perdagangan pada 11 Maret 2026 mencatat kenaikan saham BNI sebesar 0,94% ke level Rp4.300, dengan tren naik 3,61% selama seminggu terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh ekspektasi tinggi atas dividen besar dan potensi buyback yang dapat meningkatkan nilai pemegang saham.
Secara keseluruhan, keputusan RUPST BNI mencerminkan strategi jangka panjang yang berfokus pada pemberian nilai kepada pemegang saham, penguatan modal, serta pemeliharaan likuiditas pasar. Para analis memperkirakan bahwa kombinasi dividen tinggi dan buyback dapat memperkuat persepsi investor terhadap BNI sebagai pilihan investasi yang menarik di sektor perbankan.
Dengan jadwal pembayaran yang telah ditetapkan, investor kini dapat menyiapkan strategi alokasi dana menjelang tanggal 7 April 2026, sementara pasar akan terus memantau implementasi program buyback pada kuartal berikutnya.











