Dentuman Memekakkan di Beirut: Israel Luncurkan Seratus Serangan Udara dalam 10 Menit, Korban Meninggal 254 Orang

Dentuman Memekakkan di Beirut: Israel Luncurkan Seratus Serangan Udara dalam 10 Menit, Korban Meninggal 254 Orang
Dentuman Memekakkan di Beirut: Israel Luncurkan Seratus Serangan Udara dalam 10 Menit, Korban Meninggal 254 Orang

Keuangan.id – 10 April 2026 | Langit Dahiyeh, selatan Beirut, mendadak gelap pada Rabu pagi ketika ribuan kilat cahaya dan asap hitam menguar dari seratus titik strategis yang diserang oleh angkatan udara Israel. Dentuman keras mengguncang bumi, menimbulkan kepanikan massal di antara warga sipil yang tidak memiliki peringatan sebelumnya.

Menurut laporan lapangan, lebih dari seratus bom dijatuhkan dalam rentang waktu sepuluh menit, melanda wilayah metropolitan Beirut, Lembah Bekaa, kawasan pegunungan Lebanon, serta daerah selatan yang menjadi basis pertahanan faksi Hizbullah. Hujan bom ini menewaskan setidaknya 254 orang, termasuk 92 jiwa di wilayah ibu kota, serta melukai ratusan lainnya. Bangunan-bangunan tinggi runtuh, jalanan dipenuhi puing, dan asap tebal menutupi cakrawala, menciptakan suasana duka yang meluas.

Korban dan Kerusakan

Data resmi yang dikumpulkan oleh otoritas kesehatan Lebanon mencatat:

  • Korban tewas: 254 orang (termasuk 2 jurnalis lokal)
  • Korban luka: lebih dari 800 orang
  • Bangunan yang hancur total: lebih dari 30 gedung apartemen dan fasilitas publik
  • Area yang paling terdampak: Dahiyeh, Corniche al-Mazraa, wilayah Bekaa, dan selatan Beirut

Tim penyelamat bekerja sepanjang malam untuk mengevakuasi korban yang terperangkap di antara reruntuhan. Warga seperti Naim Chebbo, yang menghabiskan lebih dari lima dekade tinggal di rumah yang kini hancur, mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam.

Reaksi Domestik

Menteri Kesehatan Lebanon, Rakan Nassereddine, menyampaikan keprihatinan mendalam atas serangan yang menargetkan warga sipil. Ia menegaskan, “Kami menghadapi eskalasi berbahaya yang terjadi di Lebanon, agresi Israel dengan lebih dari 100 serangan udara yang menargetkan warga sipil tak berdosa di Beirut, Dahiyeh, Bekaa, Gunung Lebanon, dan selatan.” Pemerintah Lebanon pun menetapkan hari berkabung nasional dan menutup kantor‑kantor pemerintahan sebagai bentuk penghormatan kepada para korban.

Dimensi Internasional

Serangan ini berlangsung bersamaan dengan kesepakatan gencatan senjata yang baru saja diumumkan antara Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan tersebut, yang diharapkan dapat meredam ketegangan di Timur Tengah, kini terancam oleh aksi militer Israel yang dianggap melanggar komitmen perdamaian.

Anggota Komisi I DPR RI, Syamsu Rizal (Deng Ical), mengecam tindakan Israel dan menilai bahwa serangan tersebut “mencederai upaya perdamaian yang sedang dibangun”. Ia menuntut agar pemerintah Indonesia mengambil langkah diplomasi tegas di forum internasional serta menuntut pertanggungjawaban atas tiga prajurit TNI yang gugur dalam misi perdamaian di Lebanon.

Di tingkat regional, Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, mengutuk serangan sebagai “pelanggaran berat terhadap gencatan senjata” dan memperingatkan potensi eskalasi lebih luas. Sementara itu, Amerika Serikat mengklaim bahwa Lebanon tidak termasuk dalam ruang lingkup gencatan senjata yang dibicarakan, menimbulkan ketegangan tambahan antara Washington dan Tehran.

Implikasi Keamanan

Hizbullah, yang sebelumnya menyatakan akan menghentikan serangan demi menghormati gencatan senjata, kini mengumumkan niat untuk kembali mengangkat senjata setelah serangan Israel menewaskan keponakan Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem. Pada hari berikutnya, kelompok tersebut melancarkan serangan lintas batas ke posisi Israel di selatan Lebanon, menandai potensi spiral kekerasan yang sulit diputus.

Para analis militer memperingatkan bahwa serangan berskala besar ini dapat memicu konflik regional yang meluas, mengingat keterlibatan banyak pihak dengan kepentingan strategis di kawasan.

Respons Humaniter

Organisasi bantuan internasional telah mengirimkan tim medis dan logistik ke Beirut. Namun, akses ke zona terdampak masih terhambat oleh puing‑puing dan kondisi keamanan yang tidak menentu. Upaya penyaluran bantuan menjadi semakin krusial mengingat ribuan warga kehilangan tempat tinggal dan kebutuhan dasar.

Situasi ini menambah beban pada krisis energi regional, di mana blokade di Selat Hormuz mengancam pasokan minyak dunia. Kombinasi antara konflik militer, gangguan penerbangan internasional, dan ketegangan energi menimbulkan ketidakpastian ekonomi yang meluas.

Dengan korban jiwa yang terus bertambah dan dampak kemanusiaan yang meluas, dunia menantikan langkah diplomatik yang dapat menghentikan siklus kekerasan. Upaya mediasi internasional, tekanan politik, serta bantuan kemanusiaan menjadi kunci untuk meredakan situasi yang kini berada di ambang krisis lebih besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *