Keuangan.id – 05 April 2026 | Alessandro Del Piero, legenda Juventus dan mantan pemain timnas Italia, mengeluarkan pernyataan tegas usai tim Azzurri gagal lolos ke Piala Dunia 2026. Kegagalan yang terjadi pada babak playoff melawan Bosnia Herzegovina menjadi titik balik yang menuntut introspeksi mendalam bagi sepak bola Italia.
Del Piero menyoroti tiga kegagalan beruntun—2018, 2022, dan kini 2026—yang menurutnya sangat memalukan. Ia menegaskan bahwa kesombongan harus disingkirkan dan menekankan perlunya kerendahan hati serta perubahan struktural.
Analisis Del Piero tentang Penyebab Kegagalan
Menurut mantan kapten Azzurri, penyebab utama bukan sekadar performa di lapangan, melainkan budaya yang telah lama menumpuk sejak era kejayaan 1990‑awal 2000-an. Kita bukan lagi seperti yang kita kira, ujar Del Piero, menyinggung era ketika Italia menjadi rumah bagi para pesepak bola terbaik dunia.
Del Piero menambahkan bahwa masalahnya sangat kompleks dan melibatkan banyak faktor yang saling berinteraksi. Ia menolak menyalahkan satu pihak saja, melainkan menilai bahwa krisis ini berakar pada keputusan manajerial, kebijakan federasi, serta kurangnya investasi pada pengembangan pemain muda.
Langkah-Langkah yang Ditetapkan Del Piero
Untuk mengembalikan kejayaan Italia, Del Piero merumuskan beberapa langkah konkret:
- Menumbuhkan kerendahan hati di semua level—pemain, pelatih, dan pengurus.
- Membangun kembali sistem akademi dari dasar, mencontoh model negara‑negara sukses seperti Jerman dan Belanda.
- Mendorong budaya belajar dan analisis taktik modern, termasuk penggunaan data dan teknologi.
- Menetapkan kebijakan transparan dalam seleksi pelatih dan manajemen tim.
- Mengembalikan nilai kreativitas pada pemain muda, yang ia nilai telah dibunuh dalam beberapa tahun terakhir.
Del Piero juga menekankan pentingnya kemauan untuk memulai lagi serta belajar dari negara yang melakukan segalanya dengan baik. Ia menilai bahwa proses ini tidak dapat dilakukan secara cepat, melainkan memerlukan kesabaran dan konsistensi.
Reaksi dan Perubahan di FIGC
Kegagalan Italia memicu pergantian kepemimpinan di federasi sepak bola. Gabriele Gravina mengundurkan diri dari posisi Presiden FIGC, sementara mantan pelatih Gennaro Gattuso mengakhiri masa jabatannya. Kedua pergantian ini menandai babak baru yang diharapkan dapat menanggapi kritik Del Piero.
Meskipun ada tekanan kuat untuk menemukan penyebab tunggal, Del Piero menolak mengkambinghitamkan pihak tertentu. Ia menilai ada banyak situasi kompleks yang semuanya bertemu hingga menghasilkan kondisi ini.
Respon Publik dan Dunia Sepak Bola
Reaksi publik di Italia beragam. Sebagian mendukung suara keras Del Piero, menganggapnya sebagai panggilan untuk perubahan radikal. Sebagian lainnya menilai pernyataan tersebut terlalu keras, mengingat prestasi masa lalu Italia yang meliputi empat gelar juara dunia (1934, 1938, 1982, 2006).
Di media internasional, komentar Del Piero juga menarik perhatian. Analisis dari sejumlah portal menilai bahwa kritiknya mencerminkan keprihatinan luas terhadap kemunduran kualitas sepak bola Italia, yang dulunya dianggap rumah pesepak bola terbaik dunia.
Secara keseluruhan, pernyataan Del Piero menegaskan bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan panggilan untuk reformasi menyeluruh. Ia menutup dengan harapan bahwa Italia dapat kembali menapaki jalur kemenangan, mengingat kembali nilai‑nilai yang pernah membuat Azzurri mendominasi panggung dunia.
