Keuangan.id – 04 April 2026 | Bad an Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menargetkan pengembangan bahan bakar nabati yang dihasilkan dari nyamplung hutan, sebagai alternatif bagi bahan bakar minyak (BBM) konvensional. Proyek ini diharapkan dapat memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus mengurangi impor BBM.
Nyamplung, atau bambu hutan, dipilih karena pertumbuhannya cepat, kemampuan menyerap karbon tinggi, serta tersebar luas di daerah tropis Indonesia. BRIN bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi dan lembaga riset untuk mengoptimalkan proses konversi biomassa menjadi bioetanol dan biodiesel.
Beberapa langkah utama yang sedang dilakukan meliputi:
- Identifikasi spesies nyamplung dengan kandungan selulosa tertinggi.
- Pengembangan teknologi pretreatment dan fermentasi yang efisien.
- Pilot plant skala menengah untuk menguji produksi komersial.
- Evaluasi dampak lingkungan dan ekonomi secara menyeluruh.
Jika berhasil, estimasi produksi tahunan biofuel nyamplung dapat mencapai 2,5 juta ton, yang setara dengan mengurangi impor BBM sekitar 5‑7 persen.
| Parameter | Proyeksi |
|---|---|
| Produksi Biofuel (ton/tahun) | 2,5 juta |
| Pengurangan Impor BBM (%) | 5‑7 |
| Emisi CO₂ yang Dihindari (ton) | ≈ 3,2 juta |
Manfaat lain yang diharapkan meliputi penciptaan lapangan kerja di sektor agribisnis, revitalisasi hutan yang selama ini kurang dimanfaatkan, serta kontribusi pada target Net‑Zero Indonesia pada 2060.
Pemerintah menyiapkan regulasi insentif, termasuk tarif pajak lebih rendah bagi produsen biofuel dan pembelian mandatori oleh BUMN energi. BRIN menargetkan komersialisasi penuh pada tahun 2028, setelah fase uji coba selesai pada akhir 2025.











