Keuangan.id – 04 April 2026 | Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan bahwa produksi beras pada periode Maret sampai Mei 2026 akan turun sebesar 11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini diprediksi dapat menambah tekanan pada harga pangan domestik, terutama beras, yang menjadi makanan pokok mayoritas penduduk Indonesia.
Penurunan produksi disebabkan oleh beberapa faktor utama, antara lain kondisi cuaca yang tidak bersahabat, penurunan luas sawah yang produktif, serta penurunan hasil per hektar (yield) akibat serangan hama dan penyakit tanaman. Menurut data BPS, luas lahan sawah yang diproduksi pada Maret–Mei 2026 diperkirakan berkurang sekitar 3,5 persen, sementara produktivitas turun hampir 8 persen.
| Tahun | Produksi (Juta Ton) | Perubahan (%) |
|---|---|---|
| 2025 (Maret–Mei) | 7,2 | — |
| 2026 (Proyeksi Maret–Mei) | 6,4 | -11,1 |
Penurunan produksi beras diperkirakan akan memicu kenaikan harga di pasar domestik. Mengingat beras menyumbang lebih dari 30 persen dari total konsumsi pangan nasional, kenaikan harga beras dapat berimbas pada inflasi pangan secara keseluruhan. Analisis para pakar ekonomi menunjukkan bahwa tekanan ini dapat meningkatkan indeks harga konsumen (IHK) dalam beberapa bulan ke depan, terutama di wilayah-wilayah dengan ketergantungan tinggi pada beras lokal.
Pemerintah telah menyiapkan beberapa langkah mitigasi, antara lain memperkuat stok beras nasional melalui pembelian tambahan, meningkatkan subsidi bagi petani, serta mempercepat distribusi beras cadangan melalui Badan Penanganan Krisis (BPK). Selain itu, program penanaman kembali (replanting) dan penyuluhan teknik pertanian modern juga digencarkan untuk meningkatkan produktivitas sawah.
Para analis pasar menilai bahwa meskipun langkah-langkah tersebut dapat menahan lonjakan harga dalam jangka pendek, ketahanan pangan jangka panjang tetap memerlukan perbaikan struktural, seperti investasi pada irigasi, varietas padi tahan iklim, dan penguatan rantai pasok logistik.
Dengan proyeksi produksi yang menurun, pemantauan ketat terhadap pergerakan harga beras dan kebijakan penyesuaian stok akan menjadi kunci bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan dan melindungi konsumen.











