Keuangan.id – 09 Mei 2026 | Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menegaskan bahwa anak dan keluarga menjadi kunci pencegahan di tengah ancaman radikalisme digital. Hal ini disampaikan oleh Direktur Pencegahan BNPT Brigadir Jenderal TNI Sigit Karyadi dalam forum Kajian Senin Kamis (KSK) secara daring, Senin (4/5/2026).
Dalam forum tersebut, Sigit menyoroti derasnya arus informasi di internet, terutama yang dikonsumsi generasi muda, membuka peluang masuknya paham ekstremisme. "Di dunia nyata mungkin terlihat aman, tetapi di ruang digital, pengaruhnya besar sekali, terutama bagi anak-anak. Bahkan, tercatat ada puluhan anak yang sudah terpapar konten kekerasan," ucap Sigit.
Dengan demikian, Sigit menilai kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pengawasan dan pendampingan anak dalam menggunakan internet bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah, seperti kebijakan perlindungan anak di ruang digital serta Rencana Aksi Nasional Pencegahan Ekstremisme (RAN-PE) 2026–2029.
- Pemerintah daerah didorong untuk segera menyusun langkah konkret di tingkat lokal.
- BNPT mendorong berbagai langkah sederhana namun berdampak, seperti memperbanyak konten positif di media sosial, memperkuat pendidikan karakter dan nasionalisme di sekolah serta meningkatkan literasi digital di keluarga.
- Kolaborasi antara pemerintah daerah, sekolah, dan komunitas dinilai penting untuk menciptakan ruang digital yang lebih aman.
Peneliti FKPT Bangka Belitung Dinar Pratama menegaskan peran orang tua dan pendidik sangat krusial. "Pencegahan harus dimulai dari lingkungan terdekat, terutama keluarga dan sekolah. Anak perlu didampingi agar tidak mudah terpengaruh," tutur Dinar.
Forum KSK diikuti sekitar 150 peserta dari berbagai unsur, mulai dari aparat keamanan, pemerintah daerah hingga akademisi. Harapannya, hasil survei mengenai pengawasan terhadap anak tidak hanya menjadi data, tetapi benar-benar diterjemahkan menjadi langkah nyata di lapangan.











