Keuangan.id – 25 April 2026 | Amerika Serikat baru-baru ini mengumumkan serangkaian sanksi minyak Iran yang menargetkan kilang di China yang menjadi pembeli utama minyak mentah Tehran. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya Washington untuk menekan pendapatan energi Iran melalui jaringan perdagangan yang melibatkan pihak ketiga.
Sanction tersebut mencakup pembekuan aset, larangan transaksi keuangan bagi bank yang terlibat, serta penerapan sanksi sekunder pada perusahaan pelayaran yang mengoperasikan kapal bayangan. Berikut rincian utama yang dikeluarkan:
- Pembekuan dana milik kilang China dan afiliasinya.
- Penutupan akses ke sistem keuangan AS bagi bank yang memfasilitasi pembayaran.
- Sanksi terhadap jaringan kapal bayangan yang mengangkut minyak Iran ke pelabuhan China.
Langkah ini memicu reaksi beragam di pasar energi global. Harga Brent naik tajam dalam beberapa jam pertama setelah pengumuman, mencerminkan kekhawatiran akan berkurangnya pasokan minyak mentah. Analisis menunjukkan kemungkinan penurunan volume ekspor Iran sebesar 10‑15% dalam kuartal berikutnya.
China, sebagai salah satu konsumen utama minyak Iran, menyatakan keberatan dan mengancam akan meninjau kembali kerja sama ekonomi dengan Washington. Sementara itu, Tehran menegaskan bahwa mereka akan mencari pasar alternatif untuk mengalihkan aliran minyak.
Berikut adalah perkiraan dampak jangka pendek yang diantisipasi:
| Aspek | Perkiraan Dampak |
|---|---|
| Harga minyak | Naik 2‑3% dalam seminggu |
| Volume ekspor Iran | Turun 10‑15% kuartal ini |
| Pasar China | Pengalihan pembelian ke pemasok lain |
Pengawasan lebih lanjut diharapkan akan terus memantau alur keuangan dan logistik yang terkait dengan perdagangan minyak Iran, sementara sektor energi global menyiapkan diri menghadapi volatilitas yang lebih tinggi.











