Keuangan.id – 06 Mei 2026 | Unilever Indonesia Tbk (UNVR) melaporkan laba bersih sebesar Rp2,14 triliun pada kuartal pertama 2026, naik 73 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan laba ini terutama disokong oleh hasil divestasi aset dan penyesuaian struktural, sementara arus kas operasional tetap berada di zona negatif.
Faktor Penyokong Laba
Divestasi bisnis non-inti, terutama penjualan sebagian saham di unit konsumen luar negeri, menyumbang sekitar Rp1,1 triliun pada laba bersih. Selain itu, efisiensi biaya produksi dan pengendalian margin bruto membantu menambah profitabilitas.
Arus Kas Negatif
Meski laba naik, aliran kas dari aktivitas operasi tercatat negatif sebesar Rp850 miliar. Penurunan ini dipicu oleh peningkatan persediaan, penundaan pembayaran dari distributor, serta pembayaran utang jangka pendek yang lebih besar.
| Item | Q1 2026 | YoY |
|---|---|---|
| Laba Bersih | Rp2,14 triliun | +73% |
| Arus Kas Operasional | -Rp850 miliar | – |
| Divestasi | Rp1,1 triliun | – |
Pandangan Analis
Berbagai analis memperkirakan UNVR akan tetap stabil dalam jangka menengah. Target harga rata-rata naik menjadi Rp28.500 per saham, mengingat potensi pertumbuhan di segmen premium dan rencana ekspansi digital. Namun, mereka memperingatkan risiko likuiditas jangka pendek bila arus kas tidak segera membaik.
Secara keseluruhan, meskipun arus kas masih negatif, laba UNVR yang melesat 73 persen menunjukkan kemampuan perusahaan mengoptimalkan portofolio dan menyesuaikan biaya. Investor diharapkan memantau perkembangan arus kas serta pelaksanaan strategi divestasi selanjutnya.











