Keuangan.id – 03 April 2026 | NASA berhasil meluncurkan misi berawak Artemis II pada 1 April 2026 dari Kennedy Space Center, Florida, menandai kembalinya manusia ke lingkungan Bulan setelah lebih dari setengah abad. Dengan roket Space Launch System (SLS) setinggi 98 meter yang mengangkat kapsul Orion, empat astronot memulai perjalanan 10 hari mengelilingi Bulan, menguji sistem pendukung kehidupan, dan mencetak jarak terjauh yang pernah dicapai manusia di ruang cislunar.
Komposisi Kru dan Peran Historis
Empat anggota kru terdiri atas Reid Wiseman (komandan), Victor Glover, Christina Koch, serta Jeremy Hansen dari Badan Antariksa Kanada (CSA). Christina Koch akan menjadi wanita pertama yang mengorbit Bulan, sementara Victor Glover menjadi orang kulit hitam pertama yang melintasi zona cislunar. Jeremy Hansen mencetak sejarah sebagai astronot non‑Amerika pertama yang terlibat dalam misi mengelilingi Bulan.
Rute dan Tahapan Penerbangan
- Langkah pertama: peluncuran dari pad 39B pada pukul 18.35 (waktu setempat) dan pemisahan tahap atas SLS dari kapsul Orion.
- Setelah beberapa orbit Bumi, roket melakukan pembakaran translunar pada hari ke‑2 untuk menembus lintasan menuju Bulan.
- Selama fase mengelilingi Bulan, Orion mencapai jarak lebih dari 4.600 mil (7.400 km) di luar sisi jauh Bulan, memecahkan rekor Apollo 13 yang tercatat sejak 1970.
- Setelah mengamati sisi Bulan yang selalu menghadap jauh dari Bumi, kru melakukan manuver kembali ke Bumi, menyelesaikan perjalanan pada hari ke‑10 dengan pendaratan di Samudera Pasifik.
Tujuan Utama Tanpa Pendaratan
Berbeda dengan program Apollo, Artemis II tidak dirancang untuk mendarat di permukaan Bulan. Fokus utama adalah verifikasi kinerja sistem kritis, termasuk dukungan kehidupan, kontrol manual, serta demonstrasi manuver penting di luar angkasa. Astronot juga melakukan pengamatan sisi Bulan yang belum pernah dipelajari secara intensif, memberikan data penting bagi rencana pembangunan “Pangkalan Bulan” jangka panjang.
Teknologi Kunci dan Kolaborasi Internasional
Orion didukung oleh European Service Module (ESM) milik ESA, yang menyediakan tenaga, propulsi, dan sistem pendukung kehidupan. Kolaborasi ini menegaskan pendekatan multinasional NASA dalam menjelajah ruang angkasa, menggabungkan keahlian Amerika dan Eropa serta kontribusi Kanada melalui astronaut Jeremy Hansen.
Relevansi terhadap Visi Masa Depan
Administrator NASA Jared Isaacman menyatakan Artemis II sebagai “awal dari sesuatu yang lebih besar”, membuka jalan bagi pembangunan pangkalan permanen di Bulan dan persiapan misi ke Mars pada dekade 2030-an. Keberhasilan uji coba ini menjadi landasan bagi Artemis III yang direncanakan akan melakukan pendaratan manusia di Kutub Selatan Bulan, serta misi-misi selanjutnya yang menargetkan eksplorasi lebih jauh ke luar tata surya.
Publik dapat menyaksikan seluruh misi secara langsung melalui siaran resmi NASA di www.nasa.gov, yang menampilkan rekaman dari Orion, analisis ilmiah, serta cuplikan aktivitas di Kennedy Space Center. Antusiasme global terbukti tinggi, menandai kembali minat manusia terhadap penjelajahan luar angkasa setelah era Apollo berakhir pada 1972.
Dengan pencapaian jarak 406.000 km, Artemis II tidak hanya memecahkan rekor perjalanan manusia terjauh, tetapi juga mengukuhkan kembali posisi Amerika Serikat sebagai pemimpin dalam kompetisi ruang angkasa, khususnya dalam persaingan dengan program luar angkasa China yang sedang berkembang.
Kesimpulannya, Artemis II berhasil menampilkan kombinasi inovasi teknis, kolaborasi internasional, dan pencapaian historis yang memperkuat fondasi bagi eksplorasi berkelanjutan di Bulan dan seterusnya.
