Antrean Solar Pagi Hari dan Penurunan Penjualan Dexlite Turun 50%: Dampak Kenaikan Harga BBM

Antrean Solar Pagi Hari dan Penurunan Penjualan Dexlite Turun 50%: Dampak Kenaikan Harga BBM
Antrean Solar Pagi Hari dan Penurunan Penjualan Dexlite Turun 50%: Dampak Kenaikan Harga BBM

Keuangan.id – 22 April 2026 | Antrean kendaraan bermotor menunggu pasokan solar di SPBU Selindung sejak subuh terus memanjang, menandakan tekanan kuat pada bahan bakar diesel di wilayah Sumatera Barat. Sementara itu, data internal menunjukkan penurunan penjualan Dexlite mencapai lebih dari 50 persen sejak penyesuaian harga BBM nonsubsidi diterapkan pada awal April 2026.

Lonjakan Harga dan Dampaknya

Kenaikan harga Pertamax Turbo dan Dexlite yang signifikan – masing‑masing mencapai Rp 20.250 per liter dan Rp 23.000 per liter – memicu perubahan perilaku konsumen. Sebelumnya, Pertamax Turbo menjadi pilihan utama bagi pengendara motor sport, sementara Dexlite populer di kalangan truk dan kendaraan niaga ringan karena efisiensi bahan bakarnya.

Setelah harga naik, penjualan Pertamax Turbo di Padang turun drastis; satu kendaraan saja yang mengisi pada sore hari 21 April 2026, hanya sebanyak 4 liter. Kondisi serupa terjadi pada Dexlite, yang hanya terjual sekitar 370 liter dalam sehari, jauh di bawah volume normal 1‑2 ton per hari.

Antrean Solar Meningkat

Di SPBU Selindung, antrean solar dimulai sejak pukul 04.00 WIB. Pengawas SPBU melaporkan bahwa selama empat jam pertama belum ada kendaraan yang mengisi diesel, namun sejak pukul 08.00 antrean kembali meningkat dengan truk‑truk pengangkut barang yang menunggu pasokan. Diperkirakan, satu kali kiriman diesel dapat mencapai 16.000 liter, namun penjualan yang melambat meningkatkan risiko penyusutan dan penguapan bahan bakar yang tersimpan.

“Jika penjualan sedikit, SPBU bisa rugi karena ada penyusutan,” ujar pengawas, menambahkan bahwa stok berlebih dapat menurunkan kualitas BBM bila tidak terjual dalam waktu singkat.

Keluhan Pengemudi dan Dampak Ekonomi

Sopir truk lintas Sumatera mengeluhkan antrean panjang tidak hanya di SPBU diesel, tetapi juga di stasiun yang menyediakan solar. Mereka melaporkan kerugian waktu dan biaya tambahan akibat harus berkeliling mencari SPBU yang masih memiliki stok. Beberapa pengemudi bahkan mengeluhkan bahwa mobil mewah yang biasanya mengisi bahan bakar di SPBU yang sama kini juga terpaksa menunggu, menandakan tekanan luas pada seluruh segmen pasar.

Penurunan penjualan Dexlite mengakibatkan penurunan pendapatan bagi SPBU, sementara biaya operasional tetap tinggi. Hal ini berpotensi menambah beban pada sektor transportasi, yang sudah terdampak oleh kenaikan harga logistik akibat inflasi global.

Respons Pemerintah dan Industri

Pihak berwenang di provinsi menyiapkan langkah pengawasan distribusi BBM lebih ketat, termasuk penyesuaian jadwal pengiriman dan inspeksi stok di SPBU. Namun, hingga kini belum ada kebijakan subsidi tambahan untuk menurunkan beban konsumen.

Di sisi lain, kompetitor seperti SPBU Shell melaporkan stok kosong total, menambah kekhawatiran tentang ketersediaan bahan bakar di pasar. Harga diesel dan bensin performa tinggi terus naik, memaksa konsumen beralih ke alternatif atau mengurangi frekuensi perjalanan.

Dengan tren penurunan penjualan Dexlite yang terus berlanjut, para pemilik SPBU diharapkan mencari strategi diversifikasi, seperti penjualan bahan bakar alternatif atau layanan tambahan, untuk menstabilkan arus kas.

Secara keseluruhan, kombinasi antrean solar yang panjang dan penurunan penjualan Dexlite mencerminkan tekanan pasar yang belum berakhir. Pengawasan yang lebih ketat, penyesuaian harga yang hati‑hati, serta upaya meningkatkan efisiensi logistik menjadi kunci untuk mengurangi dampak negatif pada sektor energi dan transportasi.

Exit mobile version