Keuangan.id – 05 April 2026 | Jakarta – Aktivis hak asasi manusia Andrie Yunus mengeluarkan pernyataan pertama sejak menjadi korban penyiraman air keras pada 12 Maret 2026. Dalam sebuah rekaman suara yang dibagikan lewat akun Instagram @kontras_update, Andrie menyampaikan rasa terima kasih kepada pendukungnya sekaligus menegaskan tekadnya untuk terus melanjutkan perjuangan.
Suara Andrie: Terima Kasih dan Semangat Perjuangan
“Halo kawan‑kawan, terima kasih atas segala bentuk dukungan yang telah diberikan kepada saya untuk menghadapi teror dari orang‑orang yang pengecut. Saya akan tetap kuat, tetap tegar, tentu dengan dukungan penuh dari kawan‑kawan sekalian,” ujar Andrie dalam rekaman tersebut. Ia menutup dengan slogan perjuangan, “A luta continua! Panjang umur perjuangan!”
Detail Insiden Penyiraman Air Keras
Serangan terjadi pada malam Kamis, 12 Maret, setelah Andrie menghadiri acara siniar berjudul “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Pelaku yang tidak dikenal menyiramkan air keras ke tubuh korban, menimbulkan luka serius pada wajah, dada, kedua tangan, dan mata.
Andrie kemudian dilarikan ke rumah sakit dan saat ini berada di ruang High Care Unit (HCU) dengan kunjungan terbatas demi menjaga kondisi kesehatannya.
Penangkapan dan Penyidikan
Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI mengamankan empat anggota militer yang diduga terlibat, masing‑masing berinisial NDP (kapten), SL dan BHW (letnan satu), serta ES (sersan dua). Mereka bertugas di Detasemen Markas Badan Intelijen Strategis (Denma BAIS) TNI. Selain itu, Polda Metro Jaya mengidentifikasi dua tersangka lain berinisial BHC dan MAK, dengan indikasi bahwa jumlah pelaku dapat lebih dari dua orang.
Polisi menyatakan tidak menemukan keterlibatan warga sipil dalam kasus ini. Penanganan perkara dialihkan ke Puspom TNI setelah keterlibatan anggota militer terkonfirmasi. Keempat tersangka militer ditahan di instalasi tahanan militer Pomdam Jaya Guntur sejak 18 Maret 2026 dan dijerat pasal penganiayaan. Kepala Pusat Penerangan TNI, Aulia Dwi Nasrullah, menegaskan proses hukum akan dilaksanakan secara terbuka dan profesional.
Motif yang Masih Misterius
Hingga awal April, tiga pekan setelah peristiwa, motif serangan masih belum terungkap. Baik TNI maupun Polri belum memberikan penjelasan resmi mengenai alasan di balik aksi tersebut, meski banyak pihak menduga ada unsur politik atau upaya mengintimidasi aktivis hak asasi manusia.
Reaksi Masyarakat dan Organisasi Hak Asasi Manusia
- Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, mengecam tindakan kekerasan itu sebagai aksi intimidasi yang tidak dapat ditoleransi.
- Berbagai LSM domestik serta komunitas internasional menyatakan keprihatinan dan meminta penyelidikan menyeluruh.
- Netizen ramai memberikan dukungan moral lewat media sosial, menandai Andrie dengan tagar #AulaContinua dan #SolidaritasUntukAndrie.
Langkah Selanjutnya bagi Andrie
Dalam pernyataannya, Andrie menegaskan niatnya untuk tetap melanjutkan kampanye hak asasi manusia meski berada dalam kondisi kritis. Ia berharap dukungan publik tidak berkurang dan menyerukan kepada aparat keamanan untuk menegakkan keadilan secara tegas.
Kasus ini menambah daftar insiden kekerasan terhadap aktivis di Indonesia yang menimbulkan kekhawatiran akan kebebasan berpendapat. Penegakan hukum yang transparan diharapkan dapat menjadi sinyal kuat bagi semua pihak bahwa tindakan intimidasi tidak akan dibiarkan.
Dengan kondisi kesehatan Andrie yang masih memerlukan perawatan intensif, keluarga, kuasa hukum, dan tim medis terus memantau perkembangannya. Sementara itu, proses hukum terhadap para tersangka masih berjalan, dan publik menantikan kejelasan motif serta pertanggungjawaban yang tepat.
Semangat “A luta continua” yang diucapkan Andrie menjadi panggilan bagi seluruh elemen masyarakat untuk tetap bersatu, menolak kekerasan, dan memperjuangkan keadilan tanpa henti.











