Berita  

Ancaman Siber Meningkat, Kaspersky Ajak Perusahaan Terapkan SOC Berbasis AI

Ancaman Siber Meningkat, Kaspersky Ajak Perusahaan Terapkan SOC Berbasis AI
Ancaman Siber Meningkat, Kaspersky Ajak Perusahaan Terapkan SOC Berbasis AI

Keuangan.id – 09 April 2026 | Lanskap ancaman siber kini semakin kompleks, mulai dari serangan Advanced Persistent Threat (APT), pemanfaatan artificial intelligence (AI) dalam eksploitasi, hingga ancaman pada perangkat seluler. Dampaknya mencakup gangguan operasional, kebocoran data, kerugian finansial, dan kerusakan reputasi bagi organisasi.

  • Ancaman siber semakin canggih dan beragam.
  • Organisasi perlu beralih dari pendekatan reaktif ke strategi proaktif berbasis intelijen.
  • Kekurangan SDM cybersecurity dan rendahnya kesadaran investasi menjadi hambatan utama.

Untuk menanggapi situasi tersebut, Kaspersky memperkenalkan Security Operations Center (SOC) yang didukung oleh AI. Sistem ini memantau infrastruktur TI secara terus‑menerus, mengotomatisasi deteksi, analisis, dan penanganan ancaman, sehingga respons menjadi lebih cepat dan akurat.

Saat pelaku kejahatan juga menggunakan AI, perusahaan tidak punya pilihan selain memanfaatkan AI untuk pertahanan. Manusia tentu memiliki batasan stamina, sedangkan mesin dapat bekerja nonstop.

Kaspersky menekankan pentingnya penerapan SOC berbasis AI khususnya pada sektor keuangan dan lembaga publik, yang sering menjadi sasaran karena potensi keuntungan ekonomi dan eksposur luas.

Tantangan utama dalam implementasi SOC AI

  • Kurangnya tenaga kerja yang terlatih dalam bidang cybersecurity di Indonesia.
  • Program pendidikan formal masih terbatas; sebagian besar lulusan IT beralih ke cybersecurity melalui studi lanjutan.
  • Kesadaran manajemen bisnis terhadap kebutuhan investasi keamanan masih rendah.

Untuk mengatasi kekurangan SDM, Kaspersky telah menjalin kerja sama dengan beberapa universitas, termasuk Telkom dan ITB, guna mengembangkan kurikulum khusus cybersecurity dan mencetak tenaga ahli yang siap pakai.

Di sisi regulasi, Bank Indonesia telah mewajibkan lembaga perbankan untuk memiliki SOC. Namun, realitasnya menunjukkan variasi kualitas dan kapasitas SOC antar bank, tergantung pada besaran anggaran dan sumber daya yang tersedia. Banyak bank masih berada pada tahap awal pembangunan SOC secara bertahap.

Secara keseluruhan, peningkatan ancaman siber menuntut organisasi untuk berinvestasi pada teknologi berbasis AI dan memperkuat sumber daya manusia. Tanpa langkah proaktif, risiko kebocoran data dan kerugian operasional akan terus meningkat.

Exit mobile version