Keuangan.id – 22 Mei 2026 | Atmosfer di bilangan Senayan, Jakarta Pusat, terasa magis sekaligus mencekam pada Rabu, 20 Mei 1998. Gedung Kura-kura yang menjadi simbol sakral parlemen Indonesia tak lagi sunyi. Ribuan mahasiswa dari berbagai belahan daerah telah merayap naik, menduduki atap gedung, membawa satu tuntutan saklek: reformasi total dan jatuhkan Soeharto.
Di saat Senayan memutih oleh jaket almamater, sebuah drama senyap dengan tensi tinggi justru sedang meletup di Istana Merdeka. Sembilan tokoh bangsa dikumpulkan oleh Soeharto, termasuk Abdurrahman Wahid, Emha Ainun Nadjib, Nurcholish Madjid, Ali Yafie, Malik Fadjar, Cholil Baidowi, Sumarsono, Achmad Bagdja, dan Ma’ruf Amin.
Yusril Ihza Mahendra pun menyelinap masuk ke dalam ruangan atas ajakan Nurcholish Madjid, yang yakin betul keahlian hukum tata negara milik Yusril akan sangat dibutuhkan. Mereka semua hadir untuk membahas tentang masa depan Indonesia dan bagaimana cara menghentikan kekacauan yang terjadi di jalanan.
Aksi mundur 14 menteri yang dipimpin oleh Ginandjar Kartasasmita merupakan salah satu faktor yang memaksa Soeharto menyerah. Mereka semua menyatakan bahwa mereka tidak akan lagi mendukung pemerintahan Soeharto dan meminta dia untuk mundur dari jabatannya sebagai presiden.
Keputusan ini diambil setelah mereka menyaksikan sendiri kekacauan yang terjadi di jalanan dan bagaimana rakyat Indonesia meminta perubahan. Mereka juga menyadari bahwa pemerintahan Soeharto telah kehilangan legitimasi dan tidak lagi memiliki dukungan dari rakyat.
Dengan aksi mundur ini, 14 menteri tersebut telah membuktikan bahwa mereka memiliki keberanian untuk mengambil keputusan yang sulit dan mempertaruhkan karir mereka untuk kepentingan bangsa. Mereka telah menunjukkan bahwa mereka lebih peduli dengan nasib rakyat Indonesia daripada dengan kekuasaan dan jabatan mereka.
Setelah aksi mundur ini, Soeharto tidak memiliki pilihan lain selain mundur dari jabatannya sebagai presiden. Ia menyatakan bahwa dia akan mundur pada 21 Mei 1998, dan ini menandai akhir dari rezim Orde Baru.
Dalam beberapa hari setelah itu, Indonesia memasuki era reformasi. Rakyat Indonesia merayakan kemenangan mereka dan berharap bahwa perubahan ini akan membawa kemajuan dan kemakmuran bagi bangsa.
Namun, perjalanan menuju reformasi tidaklah mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi, dan proses transisi menuju demokrasi yang sebenarnya membutuhkan waktu dan kerja keras.
Oleh karena itu, aksi mundur 14 menteri yang dipimpin oleh Ginandjar Kartasasmita merupakan salah satu momen penting dalam sejarah Indonesia. Mereka telah membuktikan bahwa keberanian dan kepedulian terhadap rakyat dapat membawa perubahan yang signifikan bagi bangsa.
