AI Dorong China Selip AS, Raih Gelar Negara dengan Miliarder Terbanyak – Indonesia Masuk 100 Teratas

AI Dorong China Selip AS, Raih Gelar Negara dengan Miliarder Terbanyak – Indonesia Masuk 100 Teratas
AI Dorong China Selip AS, Raih Gelar Negara dengan Miliarder Terbanyak – Indonesia Masuk 100 Teratas

Keuangan.id – 10 Maret 2026 | Kekayaan ultra‑tinggi kini menjadi sorotan utama dalam dinamika ekonomi global. Tahun 2026 mencatat lonjakan signifikan jumlah miliarder dunia, dipicu oleh percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI) dan kebijakan fiskal yang mendukung pertumbuhan sektor teknologi. Data terbaru dari Forbes mengungkapkan bahwa China, termasuk Hong Kong, berhasil menyalip Amerika Serikat dalam hal jumlah miliarder, sementara Indonesia menorehkan prestasi masuk 100 orang terkaya dunia.

China Unggul Berkat AI

Menurut laporan Forbes, pada 1 Maret 2026 tercatat 3.428 individu yang masuk dalam daftar miliarder dunia, naik 400 orang dibandingkan tahun sebelumnya. Total kekayaan mereka mencapai USD 20,1 triliun (sekitar Rp 338,966 triliun). Amerika Serikat, yang selama ini memimpin, kini berada di posisi kedua dengan 989 miliarder, termasuk 15 orang di jajaran 20 terkaya.

China, bersama Hong Kong, menempati urutan pertama dengan 610 miliarder. Peningkatan ini terutama didorong oleh sektor AI yang tengah meledak di negeri tirai bambu. Perusahaan-perusahaan teknologi seperti Baidu, Alibaba, dan startup AI generatif memperoleh valuasi tinggi, mengubah pendiri dan eksekutif menjadi miliarder dalam hitungan tahun. Pemerintah China juga memperkenalkan insentif pajak dan subsidi riset yang mempercepat komersialisasi teknologi AI, menambah daya tarik investasi domestik.

India dan Negara Lain Tetap di Balik

India menempati peringkat ketiga dengan 229 miliarder, jauh tertinggal di belakang China. Meskipun pertumbuhan ekonomi India tetap kuat, sektor AI belum seintensif di China, sehingga jumlah miliarder masih terbatas.

Indonesia Masuk Daftar 100 Orang Terkaya Dunia

Berita penting bagi Indonesia datang dari Forbes yang menempatkan Prajogo Pangestu dalam jajaran 100 miliarder dunia. Pada 10 Maret 2026, Pangestu menempati posisi ke‑84 dengan kekayaan USD 28,6 miliar (sekitar Rp 482,31 triliun). Nilai tersebut menandai pencapaian signifikan bagi industri Indonesia, khususnya sektor infrastruktur dan agribisnis yang menjadi basis kekayaan Pangestu.

Namun, berdasarkan data real‑time net worth Forbes, kekayaan Pangestu sedikit menurun menjadi USD 23,5 miliar (Rp 396,30 triliun), menggesernya ke posisi 107 pada peringkat global. Penurunan ini dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tukar dolar AS terhadap rupiah dan perubahan harga saham perusahaan-perusahaan yang dimilikinya.

Tren Kekayaan di Kalangan Teknologi Global

Fenomena peningkatan jumlah miliarder tidak hanya terbatas pada China. Di Amerika Serikat, tokoh‑tokoh teknologi terus menambah portofolio properti mewah. Contohnya, Mark Zuckerberg membeli rumah termahal di kawasan eksklusif Indian Creek Island, Miami, senilai USD 170 juta (Rp 2,8 triliun). Transaksi ini memecahkan rekor penjualan properti di wilayah tersebut, menandakan pergeseran minat miliarder teknologi terhadap pasar properti premium di luar Silicon Valley.

Tren serupa juga terlihat pada pendiri Alphabet, Larry Page dan Sergey Brin, yang masing‑masing mengakuisisi properti bernilai ratusan juta dolar di Miami. Faktor pemicu utama adalah kebijakan pajak miliarder di California yang mendorong para super‑rich mencari lingkungan fiskal yang lebih menguntungkan.

Implikasi Ekonomi Global

Lonjakan jumlah miliarder, terutama yang berasal dari sektor AI, membawa implikasi penting bagi perekonomian dunia. Pertama, konsentrasi kekayaan di tangan segelintir orang dapat memperlebar kesenjangan ekonomi, menuntut pemerintah untuk meninjau kembali kebijakan redistribusi dan pajak progresif. Kedua, investasi miliarder dalam teknologi tinggi mempercepat inovasi, menciptakan lapangan kerja baru, serta meningkatkan produktivitas nasional.

Di sisi lain, ketergantungan pada valuasi pasar saham dan nilai tukar mata uang membuat kekayaan ini sangat volatil. Fluktuasi nilai tukar rupiah, misalnya, dapat mengubah posisi peringkat miliarder Indonesia dalam hitungan bulan.

Secara keseluruhan, data 2026 menegaskan pergeseran pusat kekayaan dunia dari Barat ke Timur, dipicu oleh revolusi AI dan kebijakan pemerintah yang mendukung inovasi. Indonesia, meski masih berada di peringkat menengah, menunjukkan tanda‑tanda kemajuan dengan masuknya Prajogo Pangestu ke dalam 100 miliarder teratas.

Pengamat ekonomi menekankan pentingnya memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat ekosistem inovasi domestik, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan menciptakan regulasi yang menyeimbangkan antara pertumbuhan dan pemerataan kekayaan.

Exit mobile version