Berita  

Korban Kekerasan Daycare Little Aresha di Yogyakarta Meningkat Jadi 93 Anak, Program Transisi dan Intervensi Gizi Diperluas

Korban Kekerasan Daycare Little Aresha di Yogyakarta Meningkat Jadi 93 Anak, Program Transisi dan Intervensi Gizi Diperluas
Korban Kekerasan Daycare Little Aresha di Yogyakarta Meningkat Jadi 93 Anak, Program Transisi dan Intervensi Gizi Diperluas

Keuangan.id – 05 Mei 2026 | Puluhan anak korban kekerasan di Daycare Little Aresha, Yogyakarta, kini tercatat berjumlah 93 anak setelah data terbaru dirilis pada awal Mei 2026. Peningkatan ini menandai lonjakan signifikan dibandingkan dengan laporan sebelumnya yang mencatat 83 anak terdaftar dalam program sekolah transisi.

Menurut Retnaningtyas, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk serta Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Yogyakarta, penanganan sosial terhadap anak-anak korban terus digulirkan secara intensif. “Hingga awal Mei, 93 anak telah terdaftar dalam program transisi, dengan mayoritas dipindahkan ke tempat penitipan anak (TPA) yang ditunjuk pemerintah,” ujarnya pada Selasa, 5 Mei 2026.

Data Kesehatan Anak Korban

Emma Rahmi Aryani, Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, menjelaskan hasil asesmen awal terhadap 131 anak yang pernah berada di Little Aresha. Temuan utama meliputi:

  • 17 anak menunjukkan indikasi gangguan gizi.
  • 13 anak terindikasi mengalami gangguan perkembangan, termasuk keterlambatan bicara, spektrum autisme, dan hiperaktivitas.
  • Berbagai masalah lain seperti speech delay juga teridentifikasi.

Hasil asesmen tersebut menjadi dasar bagi tim medis untuk merancang intervensi yang sesuai dengan kebutuhan masing‑masing anak.

Intervensi Gizi dan Terapi Perkembangan

Intervensi gizi diberikan berupa makanan tambahan yang disesuaikan dengan tingkat kekurangan nutrisi tiap anak. Sementara itu, anak yang menunjukkan gangguan perkembangan mendapatkan terapi khusus, antara lain terapi wicara, terapi okupasi, serta konseling psikologis.

Semua layanan ini disalurkan melalui puskesmas terdekat dari tempat tinggal masing‑masing korban. Tim medis yang terlibat meliputi dokter, bidan, nutrisionis, dan psikolog. “Durasi terapi bervariasi, ada yang hanya beberapa bulan, namun ada pula yang membutuhkan penanganan jangka panjang,” kata Emma.

Langkah Pemerintah Kota dalam Penanganan Jangka Panjang

Pemerintah Kota Yogyakarta menegaskan komitmen untuk memastikan pemulihan sosial dan psikologis anak korban. Program sekolah transisi tidak hanya menyediakan pendidikan dasar, tetapi juga mencakup kegiatan pembinaan karakter, pelatihan keterampilan hidup, serta pemantauan kesehatan secara berkala.

Selain itu, DP3AP2KB berkoordinasi dengan lembaga sosial untuk memastikan bahwa setiap anak yang dipindahkan ke TPA baru mendapatkan lingkungan yang aman dan mendukung pertumbuhan optimal.

Tantangan dan Harapan Kedepan

Meski upaya penanganan telah berjalan, tantangan tetap ada. Ketersediaan tenaga ahli, terutama psikolog anak, masih terbatas. Selain itu, proses rehabilitasi psikologis memerlukan dukungan berkelanjutan dari keluarga dan komunitas.

Namun, para pejabat optimis bahwa dengan sinergi antar‑instansi dan partisipasi masyarakat, anak‑anak korban dapat kembali menikmati masa kanak‑kanak mereka secara penuh. “Setiap anak berhak atas perlindungan, pemulihan, dan masa depan yang cerah,” tutup Retnaningtyas.

Exit mobile version