Keuangan.id – 11 Maret 2026 | PT Adaro Energy Tbk (ADRO) kembali menjadi sorotan utama di bursa Indonesia menjelang kuartal akhir 2026. Sahamnya diperdagangkan dengan price-to-book value (PBV) di bawah 1, menandakan potensi nilai wajar yang belum tergali sepenuhnya. Dengan laba bersih mencapai triliunan rupiah pada kuartal terakhir, ADRO menarik minat investor institusional maupun ritel yang mencari saham undervalued di sektor energi.
Fundamental Kuat di Tengah Harga Batubara Naik
Kenaikan harga batubara global, yang dipicu oleh peningkatan permintaan energi di Asia, memberikan dorongan signifikan bagi profitabilitas Adaro. Harga batu bara thermal di pasar internasional melambung sekitar 15% sejak awal tahun, sementara perusahaan berhasil mempertahankan margin operasional di atas 30% berkat efisiensi penambangan dan penjualan kontrak jangka panjang.
Selain itu, lonjakan harga aluminium, komoditas yang secara tidak langsung mempengaruhi kebutuhan energi, menambah sinyal positif bagi grup energi seperti ADRO dan Grup Alamtri yang memiliki eksposur pada sektor logam dan energi. Kombinasi keduanya memperkuat prospek pertumbuhan laba perusahaan.
Data Keuangan Terkini
| Item | Q4 2025 | Q4 2024 |
|---|---|---|
| Revenue | Rp 28,5 triliun | Rp 24,7 triliun |
| Laba Bersih | Rp 4,2 triliun | Rp 3,1 triliun |
| EPS | Rp 1.250 | Rp 920 |
| PBV | 0,94 | 1,12 |
Data di atas menunjukkan peningkatan pendapatan dan laba bersih yang konsisten, sekaligus penurunan PBV yang mengindikasikan saham ADRO berada di bawah nilai bukunya.
Strategi Diskon Saham pada Maret 2026
Analisis pasar pada Maret 2026 mengidentifikasi sejumlah saham bank besar dan konglomerasi yang diperdagangkan dengan diskon signifikan, termasuk BBCA, BBRI, dan ASII. ADRO masuk dalam daftar tersebut, menandakan peluang arbitrase bagi investor yang mengincar rebound nilai pasar.
Para analis menilai bahwa kombinasi faktor fundamental kuat, dukungan kebijakan pemerintah untuk energi bersih, dan potensi perbaikan margin melalui diversifikasi usaha akan mendorong pergerakan harga ADRO kembali ke level historisnya.
Rekomendasi dan Risiko
- Buy – Bagi investor jangka menengah hingga panjang yang mengincar upside potensi 20‑30% dalam 12‑18 bulan.
- Hold – Untuk investor yang sudah memiliki posisi, mengingat volatilitas harga komoditas masih tinggi.
- Risk – Risiko regulasi lingkungan, fluktuasi harga batubara global, dan tekanan transisi energi dapat menekan profitabilitas.
Investor disarankan memperhatikan kalender rilis laporan keuangan ADRO berikutnya serta kebijakan fiskal terkait sektor energi yang dapat mempengaruhi valuasi saham.
Secara keseluruhan, ADRO menawarkan kombinasi nilai wajar yang menarik, profitabilitas tinggi, dan dukungan fundamental dari tren harga komoditas global. Dengan PBV di bawah 1 dan laba triliunan, saham ini layak menjadi pilihan utama dalam portofolio investasi yang mengutamakan saham undervalued di sektor energi.











