Berita  

Warga Tebet Gambar Zebra Cross Pac‑Man, Pemerintah Janji Perbaikan dan Kontroversi Standar Jalan

Warga Tebet Gambar Zebra Cross Pac‑Man, Pemerintah Janji Perbaikan dan Kontroversi Standar Jalan
Warga Tebet Gambar Zebra Cross Pac‑Man, Pemerintah Janji Perbaikan dan Kontroversi Standar Jalan

Keuangan.id – 30 Maret 2026 | Pada Minggu, 29 Maret 2026, sebuah zebra cross bergambar karakter permainan video klasik Pac‑Man muncul di Jalan Dr. Soepomo, daerah Tebet, Jakarta Selatan, memicu perbincangan hangat di media sosial dan di antara warga setempat. Gambar berwarna putih dan kuning itu muncul setelah marka zebra cross resmi di lokasi tersebut terputus akibat pengaspalan ulang pada akhir 2025.

Latar Belakang

Jalan Dr. Soepomo, yang menghubungkan kawasan Pancoran dan Pasar Minggu, sebelumnya memiliki zebra cross standar yang dikelola Dinas Bina Marga DKI Jakarta. Namun, proses perbaikan jalan dan pembangunan trotoar menutup kembali marka lama, meninggalkan ruang kosong di permukaan aspal. Karena tidak ada fasilitas penyeberangan yang memadai, beberapa warga mengambil inisiatif mengecat ulang zebra cross secara mandiri, menambahkan motif Pac‑Man, titik-titik energi, serta pola lain yang menyerupai level dalam permainan.

Reaksi Warga

Beberapa pejalan kaki yang berada di sekitar lokasi memberikan testimoni positif. Kamila, siswi SMK berusia 18 tahun yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan di sebuah hotel dekat lokasi, mengaku sudah lima bulan tidak menemukan zebra cross di jalan tersebut. “Gak ada zebra cross juga dari awal kan. Kalau sudah PKL tuh cuma di sana doang kan zebra cross‑nya,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kehadiran zebra cross buatan warga sangat membantu saat menyeberang untuk menunggu Transjakarta.

Elza, temannya yang juga berusia 18 tahun, menilai desain tersebut “lucu” dan “kreatif”. “Karena kan itu gambar gitu kan, hasil tangan juga. Jadi kayak lucu aja gitu lihatnya,” katanya sambil menunjukkan tanda Pac‑Man yang terlukis di aspal.

Isan, pedagang berusia 67 tahun yang berjualan di dekat GPIB Bukit Moria, menilai keberadaan zebra cross tersebut memperjelas titik penyeberangan. “Bagus sih, bagus. Jadi orang tahu orang nyeberang di sini gitu kan,” ujarnya, menambahkan bahwa sebelumnya zebra cross lama hilang setelah proses galian kabel dan pengaspalan.

Tanggapan Pemerintah

Kepala Pusat Data dan Informasi Bina Marga DKI Jakarta, Siti Dinarwenny, menyampaikan permohonan maaf atas hilangnya fasilitas zebra cross di Jalan Dr. Soepomo. Ia menjelaskan bahwa marka lama tertutup karena pekerjaan pemeliharaan berkala dan pembangunan trotoar pada akhir 2025. “Pemasangan kembali marka jalan tidak dapat dilakukan secara langsung setelah pengaspalan, karena material marka thermoplastic memerlukan kondisi permukaan yang telah melalui masa pengeringan optimal agar dapat melekat dengan baik dan memiliki daya tahan maksimal,” jelasnya.

Dinas Bina Marga mengapresiasi inisiatif warga, namun menegaskan bahwa pembuatan marka jalan harus mengikuti peraturan perundang‑undangan serta standar teknis yang berlaku. “Hal ini penting untuk memastikan aspek keselamatan seluruh pengguna jalan, baik pejalan kaki maupun pengendara kendaraan bermotor, serta mencegah potensi distraksi yang dapat mengganggu konsentrasi berkendara,” ujar Wenny.

Pihak Dinas menyatakan zebra cross buatan warga akan dibongkar, namun lokasi tersebut telah masuk dalam rencana prioritas pemeliharaan marka jalan tahun 2026. Pekerjaan pemasangan ulang diperkirakan akan dimulai dalam beberapa minggu mendatang dengan menggunakan material yang memenuhi standar teknis.

Pandangan Seniman

Ijoel, aktivis grafiti yang turut menggambar ulang zebra cross bersama temannya Kemas, menyebut aksi tersebut sebagai sindiran terhadap pemerintah yang belum memperbaiki marka jalan sejak 2025. “Kita pakai piloks putih kayaknya biasa aja. Jadi ini lebih ke nyolek ke pemerintah aja. Kayak kita aja bisa, masa pemerintah enggak,” ujar Ijoel melalui telepon.

Kemas menambahkan bahwa cat semprot yang digunakan hanya bertahan sekitar satu bulan karena tidak dilapisi coating khusus jalan. “Cat ini diperuntukkan untuk tembok atau motor, enggak bisa di jalanan apalagi nggak pake coating,” jelasnya.

Implikasi dan Langkah Selanjutnya

  • Warga mengisi kekosongan fasilitas penyeberangan dengan kreativitas, namun risiko keselamatan tetap menjadi perhatian utama.
  • Pemerintah mengakui keterlambatan perbaikan dan berkomitmen memasang ulang zebra cross standar dalam waktu dekat.
  • Penggunaan cat semprot non‑standar menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas jangka panjang dan potensi distraksi bagi pengendara.
  • Aksi warga menyoroti pentingnya partisipasi publik dalam perencanaan infrastruktur perkotaan.

Secara keseluruhan, fenomena zebra cross Pac‑Man di Tebet mencerminkan dinamika antara kebutuhan nyata warga, batasan regulasi teknis, dan ruang kreativitas publik. Meskipun pemerintah berencana mengembalikan marka jalan sesuai standar, kejadian ini menjadi pelajaran bagi otoritas untuk lebih responsif terhadap keluhan masyarakat serta mempertimbangkan pendekatan yang melibatkan warga dalam menjaga keamanan dan kenyamanan ruang publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *