Keuangan.id – 10 April 2026 | Sampit, Kalimantan Tengah – Warga setempat dikejutkan pada Jumat (10/4/2026) ketika seorang perempuan berusia 60 tahun ditemukan tewas bersimbah darah di dalam rumahnya sendiri. Kejadian menggemparkan ini terjadi di sebuah rumah sederhana di kawasan perumahan warga, yang sebelumnya tampak tenang dan tak ada indikasi keributan.
Penemuan Jenazah
Korban, yang dikenal sebagai E’em, adalah seorang pengusaha penyewaan tenda yang tinggal sendiri. Pada sore hari, seorang petugas kebersihan yang bertugas di lingkungan tersebut mencatat bahwa E’em tidak merespons panggilan ketika diminta keluar rumah. Karena tidak ada respon, petugas bersama beberapa tetangga memutuskan untuk membuka pintu rumah yang terkunci dari dalam.
Setelah pintu dibuka, mereka menemukan tubuh korban tergeletak di ruang tengah, dikelilingi oleh tumpahan darah. Luka yang terlihat paling mencolok adalah pada bagian kepala, dengan perdarahan yang cukup deras. Beberapa saksi mata melaporkan bahwa terdapat juga luka pada leher, meskipun jenis luka tersebut masih diperdebatkan oleh pihak berwenang.
Latar Belakang Korban
E’em dikenal sebagai sosok yang tertutup namun ramah. Ia memiliki usaha penyewaan tenda yang melayani berbagai acara di wilayah Sampit dan sekitarnya. Anak‑anaknya telah menetap tidak jauh dari rumah sang ibu, sehingga ia tidak sepenuhnya hidup sendirian. Pada malam sebelum kejadian, anaknya sempat singgah mengunjungi ibunya, namun tidak ada keluhan atau kejadian mencurigakan yang dilaporkan.
Respon Kepolisian
Polisi Metro Sampit yang dipimpin oleh Kombes Sumarni segera melakukan pengamanan TKP (tempat kejadian perkara). Tim forensik dan penyidik pun dikerahkan untuk melakukan olah TKP, memeriksa saksi‑saksi, serta mengumpulkan barang bukti. Sebagian barang berharga, termasuk sebuah kalung, dilaporkan hilang, namun belum dapat dipastikan apakah pencurian menjadi motif utama.
Menurut Kapolres, penyidik telah menyita sejumlah barang di rumah korban untuk dijadikan barang bukti. Autopsi dilakukan di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta, untuk memastikan penyebab pasti kematian serta jenis luka yang diderita korban. Hingga saat ini, penyidik belum mengonfirmasi apakah kematian tersebut merupakan pembunuhan berencana atau hasil dari konfrontasi yang berujung fatal.
Reaksi Masyarakat
Warga sekitar menyatakan keprihatinan mereka atas kejadian ini. “Kami tidak menyangka ada hal seperti ini di lingkungan kami yang biasanya damai,” ujar Aming, ketua RW setempat. “Kami menuruti perintah kepolisian untuk mendobrak pintu, karena rumah terkunci dan kami khawatir ada orang yang terperangkap di dalam.”
Beberapa warga menambahkan bahwa mereka berharap pihak berwenang dapat segera menemukan pelaku, terutama mengingat adanya dugaan kehilangan barang berharga. “Jika ada orang yang mengambil barang, itu menambah rasa tidak aman di antara kami,” kata Rohman, saudara korban.
Pengembangan Penyidikan
Polisi menyatakan bahwa mereka masih dalam tahap pendalaman kasus. Tim penyidik terus melakukan pemeriksaan terhadap saksi‑saksi, mengumpulkan rekaman CCTV di sekitar lokasi, serta melacak jejak barang bukti yang telah disita. Kombes Sumarni menegaskan bahwa proses autopsi akan menjadi kunci utama untuk menentukan apakah luka pada kepala dan leher merupakan hasil serangan fisik, atau terdapat faktor lain yang memengaruhi.
Selain itu, penyidik juga menelusuri kemungkinan motif finansial, mengingat korban memiliki usaha yang cukup menguntungkan. Namun, hingga kini belum ada bukti konkret yang mengaitkan usaha penyewaan tenda dengan kejadian ini.
Kesimpulan
Kasus penemuan perempuan tua meninggal bersimbah darah di rumahnya telah mengguncang warga Sampit. Dengan penyelidikan yang masih berlangsung, pihak berwenang berupaya mengungkap fakta di balik kematian tragis tersebut, termasuk penyebab luka pada kepala dan leher, serta dugaan pencurian barang berharga. Masyarakat berharap proses hukum dapat berjalan transparan dan cepat, sehingga rasa aman di lingkungan dapat kembali pulih.
