Keuangan.id – 17 April 2026 | Sukoharjo, Jawa Tengah – Pada Jumat, 17 April 2026, warga Dusun Waringinrejo, Desa Cemani, Kecamatan Grogol, masih berjuang membersihkan rumah‑rumah mereka setelah terjangkit banjir yang dipenuhi oli bekas bus PO SAN. Air yang menggenangi rumah‑rumah tidak hanya membawa lumpur, melainkan juga lapisan minyak yang mengotori dinding, lantai, dan perabotan rumah tangga.
Menurut keterangan kepala cabang PO SAN Solo, Suherman, kebocoran oli terjadi ketika penutup tampungan oli di garasi bus terangkat oleh tekanan air pada pagi hari Rabu, 15 April. Karena oli memiliki massa jenis lebih ringan daripada air, ia melayang ke permukaan dan menyebar melalui aliran masuk ke pemukiman sekitar. Sekitar tiga hari kemudian, warga di gang Nuri melaporkan bahwa lantai mereka sudah bersih, namun bekas oli masih menempel pada dinding dan bau tajam masih tercium.
Akibat kontaminasi tersebut, banyak warga memutuskan untuk menyingkirkan barang‑barang yang tak dapat dibersihkan lagi, termasuk kasur, karpet, pakaian, dan perabotan lain. “Kami buang kasur karena airnya sudah masuk semua, bahkan setelah disikat masih ada noda oli,” ujar Agus, salah satu warga yang berada di gang Nuri. Ia menambahkan bahwa barang‑barang tersebut tidak dijual, melainkan dibuang karena risiko kesehatan yang timbul dari paparan minyak berbahaya.
Proses pembersihan menjadi kegiatan komunal. “Saat air sudah surut, kami langsung menyikat hingga bersih, dan jalanan juga disikat bersama‑sama,” kata Agus. Warga bergotong‑royong menggunakan sapu, ember, dan gayung untuk mengangkat sisa oli ke dalam drum khusus. Di beberapa titik, tim keamanan PO SAN menempatkan busa penyerap pada aliran keluar air guna mencegah oli lebih lanjut menyebar.
PO SAN Solo menyatakan kesediaannya memberikan kompensasi kepada keluarga yang terdampak. “Kami sudah berkomunikasi dengan ketua RT dan RW, serta Dinas Lingkungan Hidup, untuk mengumpulkan data jumlah KK yang terdampak,” ujar Suherman. Ia menegaskan bahwa tumpahan oli merupakan akibat bencana alam, bukan tindakan disengaja. Sebagai langkah preventif, perusahaan berencana merenovasi tampungan oli dengan meningkatkan ketinggian dan memperkuat penutupnya, sehingga kejadian serupa tidak terulang.
Namun, proses kompensasi belum selesai karena data lengkap masih dalam pengumpulan. Pengurus RT dan RW setempat telah mengirimkan surat permohonan melalui grup WhatsApp, namun rincian nilai kompensasi belum ditentukan. Selain Desa Cemani, warga di Tanjunganom juga melaporkan kerusakan serupa, menambah beban administrasi bagi pihak perusahaan.
Dampak sosial‑ekonomi yang ditimbulkan cukup signifikan. Banyak keluarga harus menanggung biaya pembersihan, penggantian perabot yang tidak dapat diselamatkan, serta potensi gangguan kesehatan akibat paparan minyak. Beberapa warga mengaku kehilangan kasur yang menjadi satu‑satunya tempat beristirahat bagi anak‑anak mereka, menambah beban psikologis di tengah proses pemulihan.
Reaksi masyarakat menunjukkan keprihatinan sekaligus harapan. “Kami berharap PO SAN dapat menyelesaikan kompensasi secepatnya, agar kami bisa kembali normal,” kata seorang ibu rumah tangga yang tidak disebutkan namanya. Di sisi lain, warga mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana, mengingat kejadian serupa pernah terjadi pada banjir tahun 2007 namun tidak menimbulkan tumpahan oli.
Secara keseluruhan, peristiwa banjir oli di Sukoharjo menyoroti tantangan penanganan limbah industri di wilayah rawan banjir. Upaya kolaboratif antara warga, perusahaan transportasi, dan pemerintah daerah menjadi kunci utama untuk memulihkan kondisi dan mencegah insiden serupa di masa depan. Kompensasi yang dijanjikan PO SAN diharapkan dapat membantu warga menutupi kerugian material sekaligus memulihkan rasa aman dalam lingkungan tempat tinggal mereka.
