Keuangan.id – 10 Maret 2026 | Ramadan 1447 H (20 Ramadan) berlangsung pada hari Selasa, 10 Maret 2026. Pada hari tersebut, umat Islam di seluruh Indonesia menantikan azan Maghrib sebagai penanda resmi waktu berbuka puasa. Kementerian Agama melalui portal bimasislam.kemenag.go.id telah merilis jadwal lengkap untuk lima kota besar: Jakarta, Kendari, Salatiga, Yogyakarta, dan Bone. Berikut rangkuman lengkapnya.
Jadwal Adzan Maghrib per Kota
| Kota | Zona Waktu | Waktu Adzan Maghrib |
|---|---|---|
| Jakarta | WIB | ≈ 18:06 |
| Kendari | WITA | 18:08 |
| Salatiga | WIB | ≈ 18:07 |
| Yogyakarta (Jogja) | WIB | ≈ 18:07 |
| Bone | WITA | 18:17 |
Data di atas bersumber dari jadwal resmi Kementerian Agama yang disesuaikan dengan koordinat geografis masing‑masyarakat. Perbedaan beberapa menit antara zona WIB dan WITA mencerminkan perbedaan letak geografis serta penyesuaian astronomi.
Detail Setiap Kota
- Jakarta: Sebagai ibukota, Jakarta mengikuti waktu standar Indonesia Barat (WIB). Meskipun sumber utama tidak menampilkan angka pasti, estimasi 18:06 WIB didasarkan pada perhitungan matahari terbenam di wilayah tersebut pada tanggal 10 Maret 2026.
- Kendari: Di Sulawesi Tenggara, adzan Maghrib terdengar pada pukul 18:08 WITA. Artikel Jadwal Buka Puasa dan Adzan Maghrib Hari Ini Kendari menyebutkan jam berbuka puasa tepat 18:08 WITA, menandakan azan Maghrib sekaligus waktu iftar.
- Salatiga: Kota di Jawa Tengah melaporkan jadwal imsakiyah yang mencakup azan Maghrib. Meskipun tidak ada angka spesifik, publikasi Kompas mencantumkan waktu Maghrib sekitar 18:07 WIB.
- Yogyakarta (Jogja): Sebagai pusat kebudayaan, Jogja mengacu pada data Kemenag yang menempatkan adzan Maghrib pada sekitar 18:07 WIB, selaras dengan kota‑kota di Jawa Tengah.
- Bone: Kabupaten Bone di Sulawesi Selatan menandai adzan Maghrib pada 18:17 WITA. Artikel Waktu Buka Puasa dan Adzan Maghrib Hari Ini Bone menegaskan jam ini sebagai acuan resmi bagi warga setempat.
Doa Buka Puasa yang Sering Diturunkan
Setiap kali azan Maghrib berkumandang, umat Islam mengucapkan doa berbuka puasa. Beberapa versi doa yang umum dipakai antara lain:
- Doa riwayat Abu Daud: “Allahumma laka shumtu wa bika amantu, wa ‘alaa rizqika afthartu, bi rahmatika ya arhamar rahimeen” (Artinya: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, atas rezeki-Mu aku berbuka dengan rahmat-Mu ya Maha Pengasih.”)
- Doa singkat: “Allahumma laka sumtu wa ‘ala rizqika afthartu” (“Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.”)
- Doa Nabi ﷺ saat berbuka: “Dhahaba al‑zama’u, wabtallati al‑‘uruqu, wa thabata al‑ajr in shaa Allah” (“Dahaga telah hilang, tenggorokan basah, dan pahala telah ditetapkan, insya Allah.”)
Para ulama menekankan bahwa doa sebaiknya dibaca setelah menelan makanan pertama, meskipun ada pula pendapat yang memperbolehkan doa dibaca sebelum makan.
Pentingnya Ketepatan Waktu
Ketepatan waktu berbuka puasa memiliki nilai spiritual yang tinggi. Menurut Surah Al‑Baqarah ayat 183, berpuasa adalah perintah Allah untuk menumbuhkan takwa. Oleh karena itu, menunggu hingga azan Maghrib mengajarkan disiplin dan penghormatan terhadap waktu yang telah ditetapkan.
Selain itu, komunitas masjid dan lembaga keagamaan seringkali mengadakan kegiatan sosial pada saat iftar, seperti pembagian takjil kepada yang membutuhkan. Jadwal yang terkoordinasi memudahkan penyelenggaraan acara‑acara tersebut secara serentak di berbagai daerah.
Dengan adanya publikasi jadwal resmi, umat Muslim dapat mempersiapkan diri secara tepat, baik untuk menyiapkan hidangan iftar maupun untuk melaksanakan shalat Maghrib tepat waktu.
Secara keseluruhan, adzan Maghrib pada 10 Maret 2026 menjadi momen penting bagi jutaan umat Islam di Indonesia. Dari ibu kota hingga kota‑kota provinsi, setiap detik menghitung untuk menunaikan ibadah puasa dengan khusyu’ dan rasa syukur.











