Berita  

Trump Tekankan AS Tak Butuh Selat Hormuz, Sementara RI Capai Investasi Rp 574 Triliun

Trump Tekankan AS Tak Butuh Selat Hormuz, Sementara RI Capai Investasi Rp 574 Triliun
Trump Tekankan AS Tak Butuh Selat Hormuz, Sementara RI Capai Investasi Rp 574 Triliun

Keuangan.id – 06 April 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan pernyataan keras pada Senin, 6 April 2026, menuntut Iran membuka kembali Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur vital bagi distribusi energi dunia. Pada saat yang bersamaan, Indonesia mencatat pencapaian signifikan dengan total investasi asing langsung mencapai Rp 574 triliun, menegaskan daya tarik ekonomi negara kepulauan ini di tengah ketegangan geopolitik.

Trump Tegaskan Ultimatum Terhadap Iran

Dalam wawancara dengan Fox News pada Minggu, 5 April 2026, Trump menegaskan bahwa Senin menjadi batas akhir bagi Iran untuk menandatangani kesepakatan yang memungkinkan aliran bebas di Selat Hormuz. Ia mengingatkan bahwa jika Tehran tidak memenuhi tuntutan, Amerika Serikat siap mengambil alih minyak Iran dan bahkan mempertimbangkan serangan besar‑besar terhadap infrastruktur kritis negara tersebut, termasuk pembangkit listrik dan jembatan. “Jika mereka tidak mencapai kesepakatan, dan secepatnya, saya mempertimbangkan untuk meledakkan semuanya dan mengambil alih minyak,” ujar Trump, kata laporan Al Jazeera.

Trump menambahkan, “Kalian akan melihat jembatan dan pembangkit listrik runtuh di seantero negeri mereka.” Pernyataan ini muncul setelah Iran menolak klaim sebelumnya bahwa Tehran sedang bernegosiasi dengan Washington. Sebelumnya, Trump memberikan perpanjangan waktu selama 10 hari dari batas awal 26 Maret 2026, menandakan tekanan diplomatik yang meningkat.

Iran Siapkan Aturan Baru di Selat Hormuz

Menanggapi ancaman tersebut, Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan bahwa mereka hampir menyelesaikan persiapan operasional untuk menerapkan regulasi baru di Selat Hormuz. Dalam unggahan di platform X pada 5 April 2026, IRGC menyatakan bahwa kondisi di selat tidak akan kembali seperti semula, terutama bagi Amerika Serikat dan Israel. Iran berencana memperkenalkan tarif dan pajak bagi kapal yang melintas, serta memperketat kontrol lalu lintas laut.

Sejak konflik yang melibatkan AS dan Israel dimulai pada 28 Februari 2026, Iran hanya mengizinkan lalu lintas terbatas, mengganggu sekitar 20 persen aliran minyak dan gas global. Pemerintah Oman telah mengadakan pembicaraan dengan Tehran untuk mencari solusi yang dapat mempermudah akses pelayaran, namun pihak legislatif Iran masih mengusulkan kebijakan yang lebih restriktif.

Investasi Asing di Indonesia Mencapai Rp 574 Triliun

Sementara ketegangan di Timur Tengah memanas, Indonesia mencatat lonjakan investasi asing langsung (FDI) yang mencapai Rp 574 triliun pada kuartal pertama 2026. Data Kementerian Koordinator Bidang Investasi menunjukkan bahwa sektor energi terbarukan, infrastruktur, serta manufaktur menjadi kontributor utama. Proyek‑proyek energi bersih, termasuk pembangkit tenaga surya dan hidro, menarik investor dari Jepang, Korea Selatan, dan Uni Eropa.

Selain itu, investasi di bidang infrastruktur transportasi, seperti pembangunan jalan tol dan pelabuhan, mencatat pertumbuhan 18 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pemerintah Indonesia menegaskan komitmen untuk memperbaiki iklim investasi melalui penyederhanaan perizinan, kebijakan fiskal yang lebih bersahabat, serta insentif pajak bagi perusahaan yang menanamkan modal di daerah terdepan.

Peningkatan FDI ini diharapkan dapat menciptakan jutaan lapangan kerja baru, memperkuat neraca perdagangan, dan mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,5 persen pada tahun 2026. Analisis ekonomi menilai bahwa aliran dana asing ini akan membantu menstabilkan nilai tukar rupiah serta mengurangi tekanan inflasi yang sempat meningkat akibat fluktuasi harga minyak dunia.

Di tengah dinamika geopolitik yang menimbulkan ketidakpastian pasar energi, pencapaian investasi Indonesia menjadi sinyal positif bagi para pelaku pasar global. Pemerintah menegaskan bahwa meskipun situasi di Selat Hormuz dapat memengaruhi harga minyak, langkah-langkah diversifikasi energi dan peningkatan produksi dalam negeri akan memperkuat ketahanan energi nasional.

Kesimpulannya, pernyataan keras Trump yang menegaskan AS tidak memerlukan Selat Hormuz sekaligus ancaman serangan terhadap infrastruktur Iran menambah ketegangan di kawasan Teluk Persia. Sementara itu, Indonesia berhasil menarik investasi asing senilai Rp 574 triliun, menegaskan posisi negara sebagai tujuan investasi yang stabil di Asia Tenggara. Kedua perkembangan ini mencerminkan betapa eratnya hubungan antara dinamika politik internasional dan arus investasi global, dimana keputusan geopolitik dapat memengaruhi aliran modal, namun strategi ekonomi yang matang tetap dapat menahan goncangan tersebut.

Exit mobile version