Keuangan.id – 14 April 2026 | Penetrasi transaksi digital di Indonesia terus meroket, mendorong Visa Indonesia untuk memperkuat infrastruktur keamanan guna melindungi konsumen dan menjaga kepercayaan pasar. Lonjakan penggunaan layanan pembayaran online, e‑wallet, dan belanja daring memicu kebutuhan akan proteksi yang lebih canggih, terutama dengan integrasi teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam proses verifikasi.
Berikut beberapa langkah utama yang diambil Visa Indonesia dalam rangka meningkatkan keamanan transaksi digital:
- Penerapan AI berbasis pembelajaran mesin untuk mendeteksi pola penipuan secara real‑time.
- Verifikasi biometrik pada aplikasi mitra, termasuk sidik jari dan pengenalan wajah.
- Tokenisasi data kartu yang menggantikan nomor kartu dengan kode unik yang hanya berlaku satu kali.
- Enkripsi end‑to‑end pada setiap tahap proses pembayaran.
- Kolaborasi dengan regulator dan lembaga keuangan lainnya untuk standar keamanan yang seragam.
Data internal Visa menunjukkan peningkatan signifikan dalam volume transaksi digital selama enam bulan terakhir. Tabel di bawah ini merangkum pertumbuhan bulanan dibandingkan periode yang sama tahun lalu:
| Bulan | Transaksi 2023 (miliar IDR) | Transaksi 2024 (miliar IDR) | Persentase Pertumbuhan |
|---|---|---|---|
| Januari | 12,4 | 15,8 | 27,4% |
| Februari | 13,1 | 16,9 | 29,0% |
| Maret | 14,0 | 18,5 | 32,1% |
| April | 15,2 | 20,1 | 32,2% |
| Mei | 16,0 | 21,3 | 33,1% |
| Juni | 17,5 | 23,0 | 31,4% |
Dengan langkah-langkah tersebut, Visa berharap dapat menurunkan angka fraud hingga 30% dalam dua tahun ke depan, sekaligus memberikan rasa aman bagi konsumen yang semakin mengandalkan layanan digital. Upaya ini juga diharapkan mendukung ekosistem pembayaran nasional yang lebih resilient, memperkuat posisi Indonesia sebagai pasar digital terbesar di Asia Tenggara.











