Keuangan.id – 30 April 2026 | Jakarta Barat dikejutkan pada Senin malam ketika sebuah insiden menimpa seorang pria berusia sekitar 45 tahun yang mengalami kejang di sebuah rumah tinggal di kawasan Cengkareng. Kejadian berawal ketika pria tersebut tiba‑tiba kehilangan kesadaran dan terjatuh ke atas genteng atap rumah, menyebabkan luka fatal yang berujung pada kematian meskipun tim pemadam kebakaran (Damkar) berusaha mengevakuasi secara cepat.
Menurut saksi mata yang berada di lokasi, pria tersebut sedang berada di dalam rumah bersama keluarganya ketika ia mendadak mengeluarkan suara berisik diikuti dengan gerakan tubuh yang tidak terkendali. Ia kemudian terjatuh ke luar jendela kecil di sisi rumah dan jatuh tepat di atas lapisan genteng yang berada di atas teras belakang. Suara benturan membuat tetangga sekitarnya langsung berhamburan menghubungi layanan darurat.
Respon Tim Pemadam Kebakaran dan Medis
Tim Damkar Dinas Penanggulangan Kebakaran DKI Jakarta tiba di lokasi dalam waktu kurang dari lima belas menit setelah panggilan diterima. Sesampainya di tempat, petugas menemukan korban terbaring tak berdaya di atas genteng dengan luka memar berat pada kepala serta pendarahan di bagian leher. Tim medis lapangan segera melakukan tindakan pertolongan pertama, termasuk penstabilan pernapasan dan penanganan pendarahan, sebelum menyiapkan alat angkat untuk mengeluarkan korban dari posisi yang sulit.
Setelah proses evakuasi selesai, korban dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cengkareng untuk perawatan lanjutan. Sayangnya, hasil pemeriksaan medis menunjukkan kerusakan otak yang luas akibat benturan keras, sehingga pasien dinyatakan meninggal dunia pada pukul 21.30 WIB. Tim medis menyatakan bahwa penanganan telah dilakukan seoptimal mungkin, namun cedera yang diderita terlalu parah untuk diselamatkan.
Penyebab Kejang dan Langkah Pencegahan
Polisi setempat bersama tim kesehatan melakukan investigasi awal untuk mengidentifikasi penyebab kejang yang dialami korban. Dari pemeriksaan awal, diduga kuat bahwa pria tersebut memiliki riwayat epilepsi yang tidak terdiagnosa atau tidak diobati secara rutin. Selain itu, faktor stres dan kelelahan akibat pekerjaan berat juga menjadi pertimbangan dalam menilai kondisi kesehatan korban.
Petugas menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala, terutama bagi mereka yang memiliki gejala kejang atau riwayat keluarga dengan penyakit saraf. Pengetahuan tentang cara menangani kejang, termasuk menempatkan korban pada posisi aman dan menghindari bahaya jatuh, dapat menyelamatkan nyawa.
Tanggapan Masyarakat dan Pemerintah
Warga sekitar menyatakan keprihatinan mendalam atas kejadian ini. Beberapa dari mereka mengusulkan agar pemerintah daerah meningkatkan sosialisasi tentang penanganan pertama pada kasus kejang serta memperluas akses layanan kesehatan mental dan neurologis di wilayah Jakarta Barat.
Pemerintah DKI Jakarta melalui Dinas Kesehatan menanggapi dengan menjanjikan program edukasi kesehatan yang lebih intensif, termasuk pelatihan pertolongan pertama di lingkungan RT/RW dan penyuluhan tentang penyakit kronis yang dapat memicu kejang. Selain itu, Dinas Pemadam Kebakaran berjanji akan meningkatkan kecepatan respons dan memperkuat peralatan evakuasi pada area-area padat penduduk.
Kasus ini menjadi pengingat keras bagi masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala kesehatan yang tampak ringan namun berpotensi fatal. Kewaspadaan, pengetahuan dasar pertolongan pertama, serta akses cepat ke layanan medis menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko kematian akibat kejang atau cedera jatuh.
Semoga tragedi ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak, baik warga maupun aparat, untuk lebih memperhatikan kesehatan pribadi dan meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi situasi darurat.











