Keuangan.id – 04 April 2026 | Di tengah tekanan kenaikan harga bahan bakar dan kekhawatiran akan krisis energi global, anak perusahaan ESTI, PT. Prasasti Logistik (PRS), memutuskan beralih ke truk listrik untuk kegiatan distribusinya. Langkah ini diproyeksikan dapat menurunkan biaya operasional hingga 40 % serta mengurangi emisi karbon secara signifikan.
Keputusan tersebut didorong oleh tiga faktor utama: tingginya harga BBM, regulasi pemerintah yang semakin menekankan pengurangan emisi, dan kebutuhan untuk meningkatkan daya saing dalam industri logistik yang kompetitif. Dengan mengadopsi kendaraan listrik, PRS tidak hanya menghemat biaya bahan bakar, tetapi juga mengurangi biaya perawatan karena memiliki lebih sedikit komponen bergerak dibandingkan mesin diesel.
Berikut adalah perkiraan perbandingan biaya operasional antara truk berbahan bakar bensin dan truk listrik selama satu tahun operasional:
| Komponen | Truk Bensin (USD) | Truk Listrik (USD) |
|---|---|---|
| Bahan bakar | 12.000 | 3.500 |
| Perawatan rutin | 4.000 | 1.500 |
| Penggantian suku cadang utama | 2.000 | 1.200 |
| Total biaya operasional | 18.000 | 6.200 |
Dengan selisih hampir 12 000 USD per unit, penghematan mencapai sekitar 40 % sangat menarik bagi perusahaan yang mengelola armada besar. Selain aspek finansial, penggunaan truk listrik berkontribusi pada penurunan emisi CO₂ hingga 70 % dibandingkan kendaraan konvensional, sejalan dengan komitmen pemerintah Indonesia untuk mengurangi intensitas karbon sektor transportasi.
Implementasi truk listrik di PRS juga melibatkan pengembangan infrastruktur pengisian daya di beberapa gudang utama. Perusahaan bekerja sama dengan penyedia energi terbarukan untuk memasang stasiun pengisian cepat dengan kapasitas 150 kW, yang dapat mengisi baterai truk dalam waktu kurang dari tiga jam.
Meski begitu, terdapat tantangan yang perlu diatasi, antara lain keterbatasan jangkauan baterai pada rute jarak jauh dan kebutuhan investasi awal yang tinggi. Untuk mengurangi beban investasi, PRS memanfaatkan skema pembiayaan hijau yang ditawarkan oleh beberapa bank, sehingga biaya modal dapat disebar selama periode kontrak leasing kendaraan.
Para analis memprediksi bahwa adopsi truk listrik akan semakin meluas di sektor logistik Indonesia dalam lima tahun ke depan, mengingat tren global menuju kendaraan bersih dan kebijakan insentif pemerintah. Jika PRS berhasil mengoptimalkan model operasionalnya, langkah ini dapat menjadi contoh bagi perusahaan lain untuk menekan biaya sekaligus mendukung agenda keberlanjutan.











