Keuangan.id – 03 Mei 2026 | Biaya panel surya dan sistem penyimpanan energi berbasis baterai terus turun, membuka peluang percepatan transisi energi bersih di Indonesia.
Penurunan Biaya Teknologi Surya dan Baterai
Sejak 2020, harga modul fotovoltaik menurun sekitar 30%, sementara kapasitas penyimpanan baterai lithium‑ion turun hampir 40% berkat skala produksi global. Penurunan ini didorong oleh peningkatan efisiensi manufaktur, kompetisi antar produsen, serta dukungan kebijakan fiskal.
- Harga modul PV rata‑rata Rp 1,2 juta per watt pada 2022, turun menjadi Rp 850 ribu per watt pada 2024.
- Harga baterai lithium‑ion turun dari US$ 150/kWh menjadi US$ 90/kWh dalam tiga tahun terakhir.
Ketergantungan pada Diesel Impor
Meskipun surya dan baterai menjadi lebih terjangkau, Indonesia masih sangat bergantung pada bahan bakar diesel impor untuk pembangkit listrik, terutama di daerah terpencil. Subsidi energi pemerintah mencapai lebih dari Rp 30 triliun per tahun, menambah beban fiskal dan mengurangi insentif bagi investasi energi terbarukan.
| Komponen | Biaya Tahunan (Rp Triliun) |
|---|---|
| Subsidi Diesel | 30,5 |
| Investasi Surya & Baterai | 5,2 |
Data di atas menunjukkan kesenjangan antara dana yang dialokasikan untuk subsidi diesel dengan investasi pada sumber energi bersih. Pemerintah perlu menyeimbangkan kebijakan agar penurunan biaya teknologi dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Jika tren penurunan harga surya dan baterai berlanjut, serta kebijakan subsidi diesel direformasi, Indonesia berpotensi mengurangi ketergantungan energi fosil, menurunkan emisi karbon, dan meningkatkan ketahanan energi nasional.
