Keuangan.id – 10 Maret 2026 | ValueMax, anak perusahaan BUMN Pegadaian, menargetkan pertumbuhan pembiayaan sebesar 227 persen pada akhir 2026 dibandingkan dengan 2022. Pencapaian ini didorong oleh serangkaian strategi yang menekankan digitalisasi, diversifikasi produk, serta perluasan jaringan layanan.
Strategi utama
- Digitalisasi penuh – Peluncuran aplikasi mobile yang memungkinkan nasabah mengajukan gadai secara online, mempercepat proses approval hingga 30 menit.
- Diversifikasi portofolio – Penambahan produk gadai motor, elektronik, dan barang seni selain emas, memperluas basis pelanggan.
- Kolaborasi fintech – Kemitraan dengan platform pinjaman peer‑to‑peer untuk mengakses segmen konsumen yang belum terlayani.
- Ekspansi jaringan – Pembukaan 150 gerai baru di wilayah suburban dan kota kecil, serta penambahan 300 titik layanan mandiri.
- Manajemen risiko berbasis data – Implementasi AI untuk menilai nilai jaminan dan meminimalkan kredit macet.
Proyeksi pembiayaan
| Tahun | Pembiayaan (Triliun Rp) | Pertumbuhan YoY |
|---|---|---|
| 2022 | 45 | – |
| 2023 | 60 | 33,3% |
| 2024 | 80 | 33,3% |
| 2025 | 110 | 37,5% |
| 2026 | 143 | 30,0% |
Dengan target pembiayaan Rp143 triliun pada Januari 2026, pertumbuhan tahunan rata‑rata mencapai sekitar 60 persen. Peningkatan ini diperkirakan akan menyumbang kontribusi signifikan terhadap profitabilitas Pegadaian secara keseluruhan.
Selain itu, ValueMax berencana meningkatkan rasio margin laba bersih dengan menurunkan biaya operasional melalui otomatisasi proses internal. Penggunaan analitik big data diharapkan dapat mengidentifikasi nasabah dengan profil risiko rendah, sehingga mempercepat penyaluran dana dan mengurangi tingkat non‑performing loan (NPL).
Jika semua inisiatif berjalan sesuai rencana, ValueMax tidak hanya akan memperkuat posisinya di pasar gadai tradisional, tetapi juga dapat menjadi pemain utama dalam ekosistem keuangan inklusif di Indonesia.











