Keuangan.id – 13 April 2026 | JAKARTA, 12 April 2026 – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa Indonesia telah melampaui ambang batas 5 juta ton beras dalam persediaan nasional, menandai capaian tersendiri dalam upaya swasembada pangan. Pencapaian ini dirayakan dalam rangka Idul Fitri FunFest 2026 yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (IKA ITS). Pada kesempatan yang sama, Mentan Amran menyoroti peran strategis perguruan tinggi dalam menggerakkan inovasi pertanian, menguatkan sinergi triple helix, serta mendukung inovasi pakan ayam berbasis probiotik yang dikembangkan oleh IPB University.
Stok Beras Nasional Menembus 5 Juta Ton
Menurut data resmi Kementerian Pertanian, persediaan beras nasional kini mendekati 5 juta ton, angka yang belum pernah tercapai sejak Indonesia merdeka. Pencapaian ini mengurangi ketergantungan pada impor beras yang sebelumnya mencapai 7 juta ton per tahun. Mentan Amran mencatat, “Dulu kita impor 7 juta ton, kini tidak ada lagi impor, dan harga pangan dunia pun mengalami penurunan akibat surplus produksi kami.”
Keberhasilan ini, kata Amran, bukan hasil kerja satu orang atau satu institusi, melainkan kolaborasi seluruh elemen bangsa, termasuk petani, pemerintah, dan sektor swasta. Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan ke depan tidak hanya pada produksi, melainkan pada pemanfaatan hasil riset dan inovasi yang dapat mengoptimalkan nilai tambah produk pertanian.
Universitas sebagai Motor Inovasi dan Hilirisasi
Dalam sambutannya di FunFest, Amran menekankan pentingnya peran perguruan tinggi untuk bergerak dari sekadar seremoni menjadi aksi nyata. “Kampus harus hadir dengan aksi nyata, bukan sekadar simbol,” ujarnya. Ia menilai bahwa meskipun riset di kampus sudah kuat, masih terdapat kelemahan dalam hal hilirisasi dan pemasaran inovasi.
Amran mencontohkan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang sedang mengembangkan traktor perahu – sebuah alat pertanian berbasis teknologi kelautan yang diharapkan dapat diproduksi massal. “Kita ingin traktor, alat pertanian, itu dari ITS. Pasti bisa,” tegasnya, menambah harapan bahwa inovasi semacam ini akan memperkuat kemandirian produksi alat pertanian dalam negeri.
Dukungan Terhadap Inovasi Pakan Ayam Probiotik IPB
Selain sektor tanaman, Mentan Amran juga menyoroti inovasi di bidang peternakan. Pada kunjungan ke Science Techno Park IPB University di Bogor, ia memberikan dukungan penuh terhadap pakan ayam berbasis probiotik dan antikoksi yang dikembangkan oleh peneliti Ivan Taufik Nugraha. Produk ini diklaim dapat meningkatkan kesehatan pencernaan ayam, mempercepat pertumbuhan, serta menambah massa telur hingga 20‑30 persen.
Inovasi tersebut juga diarahkan untuk mengatasi koksidiosis, penyakit yang dapat menyebabkan kematian massal pada unggas. Dengan tambahan antikoksi, diharapkan tingkat kematian menurun signifikan. Amran menambahkan, “Jika inovasi ini mencapai target, saya siap bawa ke Presiden, kita beli. Jangan ragu, ini peluang besar.”
Ia menegaskan kesiapan pemerintah untuk menyerap hasil riset dalam skala besar, asalkan produk dapat diproduksi secara massal dan memenuhi standar kualitas. “Kami ingin inovasi tidak berhenti di laboratorium, tetapi dirasakan manfaatnya oleh peternak dan masyarakat luas,” katanya.
Sinergi Triple Helix untuk Kemandirian Pangan
Pernyataan Amran di FunFest sekaligus menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, akademisi, dan industri – model triple helix – untuk mempercepat transformasi riset menjadi solusi komersial. Ia mengajak semua perguruan tinggi, termasuk Unhas, IPB, dan ITS, untuk berkolaborasi tanpa sekat institusional demi kepentingan nasional.
Kolaborasi ini tidak hanya terbatas pada pengembangan alat pertanian, tetapi juga mencakup riset pakan, bioteknologi, dan teknologi tepat guna yang dapat meningkatkan produktivitas sekaligus menurunkan biaya produksi.
Dengan stok beras yang stabil, tidak lagi bergantung pada impor, serta dukungan kuat terhadap inovasi kampus dan sektor peternakan, Indonesia berada pada posisi yang lebih kuat untuk menjadi lumbung pangan dunia. Mentan Amran menutup acara dengan ajakan kepada seluruh elemen bangsa untuk terus bergerak dalam hilirisasi, meneliti sesuai kebutuhan negara, dan memastikan bahwa hasil riset dapat menjawab tantangan pangan di era globalisasi.











