Keuangan.id – 08 April 2026 | Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke Pulau Kharg, sebuah pangkalan strategis Iran yang terletak di Teluk Persia. Aksi militer ini memicu kekhawatiran mendalam di pasar energi global karena Kharg merupakan salah satu titik penting dalam jaringan logistik minyak bumi Iran.
Segera setelah serangan, harga minyak mentah Brent melaju tajam, mencatat kenaikan lebih dari 5% dalam hitungan jam. Pada hari berikutnya, harga Brent mencapai US$102 per barel, sementara harga WTI naik ke US$98 per barel, menandai level tertinggi sejak awal tahun 2022.
Lonjakan harga tidak hanya dipengaruhi oleh serangan langsung, tetapi juga oleh gangguan di Selat Hormuz, jalur perairan yang menyumbang sekitar 20% suplai minyak dunia. Penutupan sebagian jalur tersebut menambah ketidakpastian pasokan, memicu spekulasi investor dan meningkatkan tarif sewa tanker.
- Tarif sewa tanker VLCC (Very Large Crude Carrier) naik 15% menjadi US$30.000 per hari.
- Tarif sewa tanker Suezmax naik 12% menjadi US$22.000 per hari.
Berikut ini ringkasan pergerakan harga minyak selama tiga hari terakhir setelah serangan:
| Tanggal | Brent (USD/barel) | WTI (USD/barel) |
|---|---|---|
| 8 Apr 2026 | 102 | 98 |
| 7 Apr 2026 | 97 | 94 |
| 6 Apr 2026 | 93 | 90 |
Para analisis pasar memperkirakan volatilitas akan tetap tinggi hingga ada kejelasan mengenai intensitas konflik di wilayah Teluk Persia. Jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut, tekanan pada pasokan global dapat memicu harga minyak menembus US$110 per barel dalam beberapa minggu ke depan.
Sementara itu, perusahaan transportasi laut berusaha menyesuaikan rute mereka untuk menghindari zona risiko tinggi. Beberapa operator memilih jalur alternatif di sekitar Afrika Selatan, meskipun hal ini meningkatkan waktu tempuh dan biaya operasional.
