Keuangan.id – 11 Maret 2026 | Jakarta, 11 Maret 2026 – Dalam sidang uji kelayakan dan kepatutan di Dewan Perwakilan Rakyat, Dicky Kartikoyono, Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, menyoroti kondisi stabilitas sektor keuangan Indonesia yang saat ini berada pada posisi yang cukup solid. Meski indikator perbankan dan pasar modal menunjukkan kesehatan yang baik, ia menekankan bahwa stabilitas tersebut belum sepenuhnya berkontribusi optimal pada pertumbuhan ekonomi nasional.
Stabilitas vs Pertumbuhan
Strategi Optimalisasi Kredit dan Pasar Modal
Strategi utama yang diusulkan mencakup dua aspek penting: peningkatan penyaluran kredit perbankan (supply) serta penguatan permintaan pembiayaan (demand) dari sektor riil. Dari sisi supply, Dicky mengusulkan penerapan model universal banking, peningkatan pembiayaan sindikasi, dan pemanfaatan data yang lebih akurat untuk menyalurkan kredit kepada UMKM.
Untuk menggerakkan sisi demand, ia mengadvokasi pendekatan pentahelix yang melibatkan regulator, pemerintah, sektor swasta, lembaga keuangan, dan parlemen. Dalam kerangka ini, Bank Indonesia dan OJK diharapkan berperan sebagai “honest broker” yang memediasi dialog untuk mengidentifikasi dan mengatasi bottleneck pembiayaan.
Kolaborasi Publik‑Privat dan Peran Danantara
Dicky menekankan pentingnya skema public‑private partnership (PPP) dalam mendanai proyek‑proyek strategis. Lembaga investasi nasional Danantara dipandang sebagai mitra potensial yang dapat membuka akses pembiayaan tambahan, meskipun tetap diakui bahwa sumber dana domestik tidak dapat menutup seluruh kebutuhan pembiayaan.
Penguatan Pembiayaan UMKM melalui Sekuritisasi
UMKM, sebagai pilar utama pertumbuhan ekonomi, masih hanya memperoleh sekitar 20 % dari total kredit perbankan. Dicky mengusulkan sekuritisasi kredit UMKM yang telah mencapai skala tertentu, sehingga portofolio ritel dapat dijual kepada bank‑bank yang fokus pada pembiayaan korporasi atau wholesale. Mekanisme ini diharapkan memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.
Dengan rangkaian kebijakan tersebut, Dicky Kartikoyono berharap sektor keuangan tidak hanya tetap stabil, tetapi juga menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat dan inklusif.











