Keuangan.id – 24 April 2026 | Jakarta, 24 April 2026 – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan lebih dari 3% pada sesi I perdagangan Jumat, menurun ke level 7.152 poin. Penurunan ini dipicu oleh aksi jual bersih asing yang menyerap hampir Rp 2 triliun di seluruh pasar saham Indonesia.
Pergerakan saham BBRI pada sesi I
Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) tercatat turun 2,22% dan ditutup pada harga Rp 3.090 per lembar. Data Stockbit mencatat net foreign sell sebesar Rp 289,80 miliar terhadap BBRI pada sesi tersebut, menjadikannya salah satu saham perbankan yang paling terdampak oleh aliran keluar dana asing.
Faktor-faktor penurunan saham BBRI
Beberapa faktor utama yang berkontribusi pada melemahnya saham BBRI antara lain:
- Aksi jual asing: Net foreign sell sebesar Rp 289,80 miliar menandakan penurunan minat investor luar negeri terhadap saham perbankan, khususnya BBRI.
- Sentimen pasar luas: IHSG yang anjlok lebih dari 3% menciptakan tekanan jual yang meluas ke hampir semua saham unggulan, termasuk sektor perbankan.
- Data makroekonomi: Kekhawatiran atas pertumbuhan ekonomi yang melambat dan tekanan inflasi menambah beban bagi bank-bank dalam menyalurkan kredit.
- Kinerja kuartal terakhir: Meskipun BBRI mencatat laba bersih yang stabil, pertumbuhan kredit yang lebih lambat dibandingkan kompetitor menurunkan ekspektasi investor.
Perbandingan dengan bank lain
Selain BBRI, bank-bank lain juga mengalami tekanan serupa. BBCA menjadi saham yang paling banyak dilepas oleh asing dengan net foreign sell Rp 1,29 triliun, dan turun 5,06% ke Rp 6.100 per lembar. BMRI mencatat net foreign sell Rp 194,38 miliar dan melemah 2,59% ke Rp 4.510 per lembar. Penurunan serentak ini mengindikasikan bahwa aksi jual tidak terbatas pada satu saham, melainkan merupakan respons terhadap sentimen pasar secara keseluruhan.
Prospek dan analisis teknikal saham BBRI
Dari perspektif teknikal, saham BBRI saat ini berada di bawah level support penting di sekitar Rp 3.200. Jika tekanan jual berlanjut, level support selanjutnya berada di Rp 3.000. Sebaliknya, penembusan kembali ke atas Rp 3.300 dapat menjadi sinyal pemulihan jangka pendek.
Para analis memperkirakan bahwa dalam jangka menengah, fundamental BBRI tetap kuat berkat jaringan luas di segmen ritel dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Namun, volatilitas pasar yang dipicu oleh aliran dana asing dapat memperpanjang fase koreksi.
Investor disarankan untuk memperhatikan perkembangan kebijakan moneter Bank Indonesia serta data inflasi yang dapat memengaruhi margin bunga bersih bank. Jika inflasi berhasil terkendali dan suku bunga stabil, tekanan pada saham perbankan, termasuk BBRI, berpotensi berkurang.
Secara keseluruhan, meskipun aksi jual asing memberikan dampak negatif pada harga saham BBRI dalam jangka pendek, fundamental perusahaan tetap solid. Pemantauan ketat terhadap aliran dana asing dan kebijakan ekonomi makro akan menjadi kunci bagi para pelaku pasar dalam mengambil keputusan investasi.
