Keuangan.id – 24 April 2026 | JAKARTA – Pemerintah Indonesia menyiapkan rencana ambisius untuk mengimpor 150 juta barel minyak mentah (crude) dari Rusia secara bertahap hingga akhir 2026. Langkah ini diharapkan dapat menutupi kesenjangan antara konsumsi harian nasional yang mencapai 1,6 juta barel dengan produksi domestik yang hanya sekitar 600 ribu barel per hari.
Volume Impor dan Keterbatasan Penyimpanan
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, menjelaskan bahwa volume 150 juta barel tidak dapat diimpor sekaligus karena keterbatasan infrastruktur penyimpanan minyak mentah di dalam negeri. “Kalau sekaligus itu kan kita memerlukan oil storage di dalam negeri. Itu kan akan dilakukan impor secara bertahap,” ujarnya.
Dengan konsumsi harian 1,6 juta barel, kebutuhan tahunan Indonesia mendekati 584 juta barel. Impor 150 juta barel dari Rusia hanya menutupi sekitar 25 persen kebutuhan tahunan, sehingga pemerintah tetap mencari tambahan pasokan dari negara lain, termasuk Amerika Serikat.
Skema Pengelolaan Impor
Pemerintah tengah menyiapkan payung regulasi untuk dua opsi utama dalam pelaksanaan impor:
- Badan Usaha Milik Negara (BUMN): Impor melalui BUMN akan melibatkan proses tender dan harus menyesuaikan dengan kontrak pengadaan yang sudah ada.
- Badan Layanan Umum (BLU): Opsi ini diharapkan memberikan fleksibilitas lebih, terutama dalam hal pembiayaan dan mekanisme kerja sama antar‑negara (G2G).
Yuliot menekankan bahwa regulasi kedua opsi sedang disiapkan agar proses import dapat berjalan lancar tanpa mengganggu kontrak yang sudah ada.
Harga dan Kesepakatan Khusus
Menurut Utusan Khusus Presiden bidang Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo, Rusia memberikan komitmen pasokan 150 juta barel dengan harga khusus yang ditetapkan dalam pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Vladimir Putin di Moskow pada 13 April 2026. Awalnya Rusia menyetujui pengiriman 100 juta barel, dan bersedia menambah 50 juta barel jika diperlukan.
Harga crude Rusia akan mengacu pada pasar global, dengan kemungkinan diskon tergantung pada negosiasi bilateral.
Dampak Terhadap Ketahanan Energi Nasional
Impor minyak Rusia tidak hanya ditujukan untuk bahan bakar kendaraan bermotor, tetapi juga untuk mendukung industri petrokimia, pertambangan, dan kebutuhan energi lainnya. Pemerintah berharap pasokan tambahan dapat mengurangi ketergantungan pada impor LPG dari Amerika Serikat, yang saat ini menyumbang sekitar 60 persen kebutuhan LPG nasional.
Selain itu, kerja sama mencakup pengembangan kilang dan teknologi energi, yang diharapkan meningkatkan kapasitas penyimpanan dan pengolahan minyak mentah di dalam negeri.
Langkah Selanjutnya
Kementerian ESDM sedang melakukan pembahasan intensif dengan kementerian terkait serta lembaga keuangan untuk menentukan jalur pendanaan, lokasi penyimpanan, dan mekanisme distribusi. Proses ini diperkirakan selesai dalam beberapa bulan mendatang, sehingga impor dapat dimulai pada kuartal pertama 2026.
Dengan strategi bertahap, regulasi yang disiapkan, serta diversifikasi sumber pasokan, pemerintah menargetkan tercapainya ketahanan energi yang lebih kuat menjelang akhir 2026.
