Keuangan.id – 03 Mei 2026 | Sejumlah candaan yang diunggah oleh influencer Safrie Ramadhan di media sosial memicu kemarahan keras Na Daehoon, ayah dari tiga anak yang sekaligus mantan suami Julia Prastini (Jule). Konten tersebut menampilkan Safrie berinteraksi dengan anak‑anak Daehoon sambil melontarkan kalimat yang dianggap melanggar batas privasi dan kesopanan, sehingga menimbulkan sorotan publik yang intens.
Latar Belakang Candaan yang Menyulut Kontroversi
Pada Sabtu, 2 Mei 2026, Safrie mengunggah video singkat yang menampilkan dirinya bersama anak‑anak Na Daehoon. Di dalamnya ia menuliskan teks seperti, “Keliatan kan lebih happy sama siapa (sumpah jokes)” serta “Beres nidurin anaknya, giliran nidurin emaknya (inijokesterakhirtaunini)”. Meskipun dikemas sebagai lelucon ringan, banyak netizen menilai bahwa candaan tersebut menyinggung pribadi Na Daehoon serta melibatkan anak‑anaknya dalam konteks yang tidak pantas.
Reaksi Keras Na Daehoon
Tak lama setelah video tersebut beredar, Na Daehoon merespon melalui akun Instagramnya @daehoon_na. Ia menegaskan bahwa sebagai ayah dan pemegang hak asuh, ia memiliki kewajiban melindungi anak‑anaknya dari situasi yang berpotensi merugikan secara mental maupun emosional. Dalam pernyataannya, Daehoon menuliskan, “Beberapa hal yang menjadi perhatian serius bagi saya antara lain adanya tindakan yang menurut saya tidak pantas terhadap anak. Serta membiarkan anak‑anak terlibat atau digunakan untuk bahan lecehan dan merendahkan martabat saya sebagai ayah.”
Keputusan Membatasi Akses Julia Prastini
Menanggapi kejadian tersebut, Na Daehoon secara resmi mengumumkan keputusan untuk membatasi pertemuan antara Julia Prastini (Jule) dan ketiga anaknya. Keputusan itu tidak bersifat emosional atau sebagai bentuk dendam, melainkan didasarkan pada pertimbangan keamanan, kenyamanan, dan kesehatan mental anak‑anak. Daehoon menambahkan bahwa pembatasan tersebut akan diterapkan dengan syarat‑syarat yang jelas, meski detail lengkap belum dipublikasikan.
Implikasi bagi Keluarga dan Publik
- Konten provokatif dapat menimbulkan dampak psikologis pada anak‑anak yang belum mampu memahami konteks humor dewasa.
- Kasus ini menyoroti pentingnya etika penggunaan anak dalam konten digital, terutama bagi figur publik.
- Keputusan Daehoon memberi sinyal kuat bahwa hak asuh melibatkan perlindungan terhadap eksposur media yang tidak sesuai.
Pernyataan Tambahan dari Na Daehoon
Dalam klarifikasi lanjutan, Na Daehoon menekankan bahwa pembatasan akses tidak dimaksudkan untuk memutuskan hubungan anak dengan ibu kandungnya. Ia menegaskan, “Keputusan ini bukan diambil karena emosi, dendam, atau keinginan untuk memisahkan anak‑anak dari ibu kandungnya, melainkan semata‑mata demi menjaga keamanan, kenyamanan, kesehatan mental, serta tumbuh kembang anak‑anak.”
Kasus ini membuka perdebatan lebih luas mengenai batasan kebebasan berekspresi di media sosial, khususnya ketika melibatkan anggota keluarga yang masih di bawah umur. Pengamat media sosial menilai bahwa influencer harus lebih berhati‑hati dalam menilai dampak potensial dari setiap unggahan, mengingat jutaan pengikut yang dapat meniru atau menanggapi konten tersebut.
Secara keseluruhan, insiden antara Safrie Ramadhan dan Na Daehoon menegaskan kembali pentingnya tanggung jawab orang tua serta peran hukum dalam melindungi anak dari konten yang dapat menyinggung atau merusak kesejahteraan mereka. Keputusan pembatasan akses Julia Prastini menjadi contoh konkret bagaimana hak asuh dapat dijalankan demi kepentingan terbaik anak, sekaligus menjadi peringatan bagi publik influencer untuk menghindari lelucon yang melibatkan pihak ketiga tanpa persetujuan.











