Keuangan.id – 07 Mei 2026 | Rupiah terus melemah dan mencapai rekor terlemah baru, yaitu Rp 17.400 per dollar AS. Kondisi ini mencerminkan tekanan yang terus membayangi pasar keuangan domestik.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik. Faktor global seperti tingginya harga minyak dunia, kenaikan suku bunga acuan AS, serta penguatan dollar AS menjadi penyebab utama melemahnya rupiah.
Faktor Penyebab Melemahnya Rupiah
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai pelemahan rupiah bukan fenomena baru, melainkan tren yang sudah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir. Menurut dia, kondisi ini mencerminkan melemahnya daya saing dan produktivitas ekonomi nasional.
Wijayanto menegaskan, intervensi Bank Indonesia tidak akan cukup efektif jika tidak dibarengi perbaikan fundamental ekonomi. Upaya BI sejauh ini sudah optimal, namun tantangan terbesar kini berada di tangan pemerintah, terutama dalam merumuskan kebijakan fiskal dan sektoral yang mampu meningkatkan kepercayaan investor.
Dampak Melemahnya Rupiah
Melemahnya rupiah dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Dengan rupiah yang melemah, biaya impor barang dan jasa menjadi lebih mahal, yang dapat meningkatkan inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat.
Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk memperbaiki fundamental ekonomi dan meningkatkan kepercayaan investor. Dengan demikian, rupiah dapat kembali stabil dan perekonomian Indonesia dapat tumbuh dengan lebih baik.
Rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang terbatas, yakni sekitar Rp 17.250 hingga Rp 17.500 per dollar AS dalam sepekan ke depan. Oleh karena itu, masyarakat perlu waspada dan mempersiapkan diri untuk menghadapi dampak melemahnya rupiah.
