Keuangan.id – 23 April 2026 | Bank Indonesia (BI) menegaskan kembali komitmennya dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan pasar global dan domestik. Penurunan nilai tukar yang terjadi akhir pekan lalu memicu kekhawatiran akan dampak inflasi serta biaya impor.
Rupiah Melemah dan Faktor Penyebab
Kurs rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat sebesar 0,5% dalam 24 jam terakhir, dipengaruhi oleh penguatan dolar global, aliran modal keluar, serta sentimen risiko yang meningkat. Data pasar spot menunjukkan pasangan USD/IDR bergerak dari 15.150 menjadi 15.225 per dolar.
Langkah BI: Intervensi Spot dan DNDF
Untuk menahan laju pelemahan, BI memperkuat intervensi di pasar spot dengan menambah likuiditas melalui penjualan devisa resmi. Selain itu, bank sentral juga memperluas penggunaan instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) guna memberikan opsi lindung nilai bagi pelaku pasar domestik.
- Intervensi spot: Penjualan valuta asing secara langsung di pasar spot untuk menurunkan tekanan jual pada rupiah.
- DNDF: Kontrak forward non-deliverable yang diperdagangkan di dalam negeri, memungkinkan hedging tanpa harus menukar fisik mata uang.
Strategi Intensifikasi
BI berencana meningkatkan frekuensi dan volume intervensi, terutama pada jam perdagangan utama. Pendekatan ini diharapkan dapat menstabilkan ekspektasi pasar dan menurunkan volatilitas.
| Waktu | Kurs Spot (IDR/USD) | Volume Intervensi (Miliar USD) |
|---|---|---|
| 09:00 WIB | 15.210 | 0,8 |
| 12:00 WIB | 15.225 | 1,2 |
| 15:00 WIB | 15.190 | 0,5 |
Dengan langkah-langkah tersebut, BI berharap dapat menahan tekanan jual dan mengembalikan kepercayaan investor terhadap mata uang domestik.
Penguatan intervensi spot dan DNDF juga diharapkan memberi sinyal positif bagi kebijakan moneter ke depan, terutama dalam rangka menurunkan inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga impor.
