Keuangan.id – 13 April 2026 | Pasar valuta Indonesia mencatat penurunan nilai tukar rupiah pada awal perdagangan Senin, 13 April 2026. Rupiah terbuka di level Rp17.123 per dolar Amerika Serikat, menurun 0,11% dibandingkan penutupan Jumat sebelumnya yang berada di Rp17.104.
- Sentimen global masih dipengaruhi oleh ketegangan di Timur Tengah serta data ekonomi utama Amerika Serikat, khususnya inflasi dan harga produsen.
- Bank Mandiri memperkirakan pergerakan rupiah hari ini berada di kisaran Rp17.020–Rp17.120 per dolar.
- Indeks dolar AS (DXY) tetap di bawah 99, mencerminkan perhatian investor terhadap perkembangan geopolitik dan laporan inflasi terbaru AS.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, menekankan bahwa pembicaraan gencatan senjata di wilayah Timur Tengah tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar. “Kesepakatan yang ada masih rapuh, dan ekspor energi dari kawasan tersebut belum kembali normal,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa data harga produsen di AS akan menjadi sorotan penting untuk menilai dampak awal lonjakan harga energi terhadap sektor manufaktur.
Di Amerika Serikat, inflasi tahunan pada Maret 2026 melonjak menjadi 3,3%, tingkat tertinggi sejak Mei 2024. Kenaikan ini didorong terutama oleh biaya energi yang naik tajam: harga bensin naik 18,9% dan bahan bakar minyak naik 44,2% akibat konflik yang melibatkan Iran. Data tersebut sejalan dengan perkiraan pasar, namun menambah tekanan pada nilai tukar mata uang negara berkembang.
Di Timur Tengah, delegasi AS dan Iran dijadwalkan bertemu di Pakistan, sementara Israel setuju mengadakan pembicaraan dengan pemerintah Lebanon. Langkah-langkah diplomatik ini meningkatkan harapan akan de‑eskalasi ketegangan, yang bila berhasil dapat meredam volatilitas pasar global.
Dengan latar belakang tersebut, Andry Asmoro memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp17.020 hingga Rp17.120 per dolar AS pada hari perdagangan ini.
