Berita  

Rompi Regensi Inggris dan Kebaya Bridgerton: Sentuhan Didier Maulana Mengubah Ritual Siraman

Rompi Regensi Inggris dan Kebaya Bridgerton: Sentuhan Didier Maulana Mengubah Ritual Siraman
Rompi Regensi Inggris dan Kebaya Bridgerton: Sentuhan Didier Maulana Mengubah Ritual Siraman

Keuangan.id – 30 April 2026 | Jakarta, 29 April 2026 – Pernikahan El Rumi dan Syifa Hadju menjadi sorotan media tidak hanya karena kehangatan prosesi adat, melainkan juga karena inovasi busana yang diprakarsai oleh perancang ternama Indonesia, Didiet Maulana. Desain rompi pria dan kebaya wanita yang dipadukan dengan elemen budaya Barat mengubah cara tradisi siraman dipersepsikan, menjadikan ritual tersebut lebih modern sekaligus tetap menghormati nilai-nilai lokal.

Rompi Regensi Inggris untuk El Rumi

Rompi yang dikenakan El Rumi sebelum dan sesudah prosesi siraman dirancang khusus oleh label Svarna by IKAT Indonesia milik Didiet Maulana. Potongan tanpa lengan, berwarna krem cerah, menampilkan siluet gentleman era Regency Inggris—sebuah periode awal abad ke-19 yang kembali populer lewat serial televisi global. Detail kerah tajam, jahitan halus, serta bordir tumbuhan yang melambangkan doa untuk pertumbuhan kehidupan baru menjadi ciri khas desain tersebut.

Menurut penjelasan tim kreatif, rompi tidak sekadar pakaian tetapi simbol kesiapan mental calon mempelai pria. Sebelum air siraman menyucikan tubuh, rompi berfungsi sebagai lapisan protektif, menandakan proses pembersihan spiritual. Setelah prosesi inti, rompi dipasang kembali sebagai tanda transformasi menjadi pria dewasa yang siap menapaki peran baru dalam keluarga.

Kebaya Bridgerton untuk Syifa Hadju

Syifa Hadju, pengantin wanita, menampilkan kebaya biru yang juga dirancang oleh Didiet Maulana. Kebaya tersebut menggabungkan motif bunga halus dengan sentuhan warna biru langit, mengingatkan pada kostum era Bridgerton yang mengusung keanggunan klasik. Inisial kecil “ES” disulam di bagian belakang, menandakan nama pasangan (El dan Syifa).

Selain kebaya utama, Syifa berganti pakaian menjadi dodotan dari kain jumputan saat proses siraman. Dodotan tersebut dihiasi bordir tradisional, dipadukan dengan cape melati dan bandana bunga melati, menambah nuansa ritual yang sarat makna. Riasan wajahnya menggunakan palet peach‑pink soft glam, memberikan kesan segar dan natural.

Filosofi “East Meets West” dalam Busana Adat

Kolaborasi antara Didiet Maulana dan fashion stylist Ivan Teguh Santoso menghasilkan konsep “East meets West” yang menekankan harmoni antara modernitas global dan warisan budaya Indonesia. Penggunaan warna biru langit, teknik jumputan, serta bordir flora bukan sekadar estetika, melainkan doa agar pernikahan berbuah subur dan kebahagiaan berkelanjutan.

Desain ini juga menunjukkan fleksibilitas busana adat. Rompi yang dulunya berfungsi sebagai pakaian dalam di Inggris kini menjadi bintang utama dalam prosesi siraman Jawa. Kebaya yang terinspirasi oleh kostum kerajaan Inggris berhasil menyesuaikan diri dengan struktur tradisional kebaya, menciptakan tampilan yang segar tanpa mengorbankan identitas budaya.

Respon Publik dan Industri Mode

Acara siraman yang dihadiri oleh ratusan tamu dan dipublikasikan secara luas di media sosial menuai pujian. Netizen memuji keberanian Didiet Maulana mengusung konsep internasional dalam konteks adat, sekaligus menyoroti detail-detail kecil seperti bordir inisial dan penggunaan kain jumputan yang jarang terlihat di pernikahan modern.

Para pelaku industri mode melihat peluang baru. Trend “Regency meets Nusantara” diprediksi akan menjadi inspirasi bagi perancang lain dalam menciptakan busana pernikahan yang menggabungkan elemen sejarah dunia dengan kearifan lokal. Seminar desain busana di beberapa institusi seni kini memasukkan studi kasus ini sebagai contoh inovasi budaya.

Kesimpulan

Dengan sentuhan kreatif Didiet Maulana, prosesi siraman El Rumi dan Syifa Hadju tidak hanya menjadi momen sakral, tetapi juga panggung peragaan mode yang menegaskan bahwa tradisi dapat beradaptasi dengan era global. Rompi dan kebaya yang memadukan gaya Regency Inggris, motif tradisional Jawa, serta nuansa Bridgerton berhasil menciptakan identitas visual baru bagi pernikahan Indonesia, memperkaya warisan budaya sekaligus membuka jalan bagi inovasi busana di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *