Ramadhan Sananta di Bawah Sorotan: Mengapa 0 Shot on Target Membuatnya Terancam di Timnas Indonesia?

Ramadhan Sananta di Bawah Sorotan: Mengapa 0 Shot on Target Membuatnya Terancam di Timnas Indonesia?
Ramadhan Sananta di Bawah Sorotan: Mengapa 0 Shot on Target Membuatnya Terancam di Timnas Indonesia?

Keuangan.id – 01 April 2026 | Timnas Indonesia menutup partisipasinya di FIFA Series 2026 dengan posisi runner‑up setelah kalah tipis 0‑1 dari Bulgaria di final Stadion Utama Gelora Bung Karno. Di balik hasil tim yang cukup kompetitif, sorotan utama tertuju pada striker berusia 23 tahun, Ramadhan Sananta, yang gagal mencetak gol dan mencatatkan nol tembakan mengarah ke gawang dalam dua laga yang ia mainkan.

Statistik Penampilan Sananta

Sananta masuk sebagai starter dalam dua pertandingan penting: melawan St. Kitts and Nevis (laga pembuka) dan final melawan Bulgaria. Total menit bermainnya mencapai 117 menit, dengan rincian 72 menit pada laga pertama dan 45 menit pada laga final. Meskipun ia menerima tiga percobaan tembakan, tidak ada satupun yang berhasil mengarah tepat ke gawang lawan. Dua tembakan pertama diblok oleh pemain bertahan, sementara tembakan ketiga melenceng jauh dari target.

Statistik ini dijabarkan oleh platform data sepak bola Lapangbola, yang menegaskan bahwa Sananta mencatatkan “Dua laga, Nol Shot On Target”. Keadaan ini menjadi catatan penting bagi sang striker, mengingat ekspektasi tinggi yang diberikan pelatih John Herdman.

Reaksi Pelatih dan Pengamat

John Herdman tetap mempertahankan kepercayaan pada Sananta, menempatkannya di lini depan bersama Ole Romeny, Ragnar Oratmangoen, dan kadang‑kadang Mauro Zijlstra. Herdman menilai peran Sananta serupa dengan Olivier Giroud di Timnas Prancis: seorang penyerang yang mampu mengganggu pertahanan lawan dan membuka ruang bagi rekan satu lini. “Sananta memberi tekanan pada bek lawan, meski belum menghasilkan gol, kontribusinya tetap berharga,” ungkap Herdman dalam konferensi pasca‑final.

Sementara itu, Ketua Badan Tim Nasional (BTN) PSSI, Sumardji, mengakui kekecewaan atas kurangnya konversi peluang, namun menegaskan bahwa kondisi fisik Sananta masih baik. Ia menambahkan, “Kita harus belajar dari kekurangan ini dan meningkatkan kualitas penyerangan ke depan.”

Pengamat sepak bola nasional, Alexander Saununu, memberikan analisis kritis. Menurutnya, Sananta belum menunjukkan perkembangan signifikan sejak era Shin Tae‑yong. “Gaya bermain dan positioning masih stagnan, ia sering hanya berlari tanpa naluri gol yang tajam,” kata Saununu. Ia menilai bahwa performa Sananta melambat ketika menghadapi tim dengan pertahanan disiplin seperti Bulgaria.

Pilihan Lini Depan Timnas Indonesia

Dengan tekanan pada Sananta, John Herdman memiliki beberapa alternatif pemain yang dapat dipertimbangkan untuk mengisi posisi striker:

  • Ole Romeny – pemain yang sudah menunjukkan kemampuan mencetak gol di FIFA Series.
  • Ragnar Oratmangoen – opsi kreatif yang dapat berkontribusi dalam build‑up play.
  • Mauro Zijlstra – mencetak gol penting setelah masuk menggantikan Sananta pada laga pertama.
  • Jens Raven – pemain muda dengan potensi menembus lini pertahanan.
  • Ezra Walian, Hokky Caraka, Victor Dethan – nama-nama yang berada di daftar pemanggilan awal dan siap bersaing.
  • Rafael Struick – mantan andalan skuad Garuda yang kembali menjadi pilihan.

Persaingan di lini depan diprediksi akan semakin ketat, terutama bila Sananta tidak mampu meningkatkan produktivitasnya. Tanpa perbaikan, risiko ia tersisih dari skuad utama menjadi nyata.

Implikasi bagi Karier Sananta di Liga Malaysia

Di luar kompetisi internasional, Sananta bermain untuk DPMM FC, klub asal Brunei Darussalam yang berkompetisi di Liga Super Malaysia. Meskipun ia sempat mencetak gol di kompetisi domestik, penurunan ketajaman akhir-akhir ini menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi performa lintas kompetisi. Beberapa analis mengusulkan perpanjangan kontrak atau pindah ke klub lain sebagai upaya mencari tantangan baru yang dapat memicu kebangkitan kariernya.

Secara keseluruhan, dua pertandingan FIFA Series 2026 menjadi titik tolak evaluasi bagi Ramadhan Sananta. Meskipun kontribusinya dalam membuka ruang bagi rekan satu tim tidak dapat diabaikan, statistik menuntut peningkatan konkret pada aspek tembakan mengarah ke gawang. Dukungan pelatih, masukan dari pengamat, dan persaingan internal akan menjadi faktor kunci dalam menentukan apakah Sananta dapat kembali menjadi pilihan utama di lini depan Timnas Indonesia.

Ke depannya, Sananta perlu mengasah naluri gol, meningkatkan kecepatan eksekusi, dan memaksimalkan setiap peluang yang diberikan. Hanya dengan perbaikan tersebut, ia dapat menghindari risiko terlempar dari skuad nasional dan kembali menorehkan prestasi yang diharapkan oleh para pendukung sepak bola tanah air.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *