Berita  

Pramono Bentuk Tim Khusus: Upaya Gencar Tangkap Ikan Sapu-sapu di Jakarta!

Pramono Bentuk Tim Khusus: Upaya Gencar Tangkap Ikan Sapu-sapu di Jakarta!
Pramono Bentuk Tim Khusus: Upaya Gencar Tangkap Ikan Sapu-sapu di Jakarta!

Keuangan.id – 03 Mei 2026 | Jakarta menghadapi lonjakan populasi ikan sapu-sapu yang mengganggu ekosistem sungai. Menanggapi masalah ini, Gubernur DKI Jakarta, Pramono, mengumumkan pembentukan tim khusus yang bertugas menjerat ikan sapu-sapu secara periodik. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan mengendalikan angka ikan, tetapi juga memanfaatkan sumber daya yang melimpah menjadi produk bernilai ekonomi.

Latar Belakang Masalah

Ikan sapu-sapu, yang berasal dari sungai Amazon, kini menjadi spesies invasif di perairan Jakarta. Populasi yang membludak menurunkan kualitas air, bersaing dengan ikan lokal, serta menimbulkan risiko kesehatan karena mengandung logam berat dan bakteri Escherichia coli. Peneliti BRIN, Gema Wahyudewantoro, menegaskan bahwa meskipun beberapa studi menunjukkan kadar logam masih di bawah ambang batas, data representatif dari hulu ke hilir belum cukup untuk menjamin keamanan konsumsi manusia.

Rencana Tim Khusus

Tim yang dipimpin oleh Pramono akan beroperasi di beberapa titik strategis di sepanjang Sungai Ciliwung, Kali Sunter, dan kanal-kanal utama Jakarta. Anggota tim terdiri dari ahli limnologi, peneliti BRIN, serta tenaga operasional dari Dinas Lingkungan Hidup. Penangkapan akan dilakukan secara periodik dengan menggunakan jaring selektif yang meminimalisir tangkapan spesies non‑target.

Setelah penangkapan, ikan sapu-sapu akan dipindahkan ke fasilitas pengolahan yang telah disiapkan. Di sana, ikan akan diproses menjadi tiga jenis produk utama: pakan ternak, pupuk organik, dan arang aktif yang berfungsi menyerap logam berat di air.

Pemanfaatan Ikan Sapu-sapu

Peneliti dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Triyanto, menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu dapat diolah menjadi pakan ternak setelah proses pengeringan dan penggilingan. Bagi peternak lele, patin, atau ikan betutu, bahan baku ini menjadi alternatif protein yang ekonomis, asalkan ikan tersebut terbebas dari kontaminan.

Untuk pupuk, teknologi sederhana berupa proses fermentasi dalam drum (POC) dapat menghasilkan pupuk cair yang cocok untuk tanaman hias. Pupuk ini mengandung nutrisi organik yang meningkatkan kesuburan tanah tanpa menambah beban logam berat.

Arang aktif yang dihasilkan melalui proses pirolisis pada suhu 300‑500 °C memiliki pori‑pori halus. Bentuknya lebih kecil dibandingkan arang sabut kelapa, sehingga efektif menyerap logam berat dan bahan organik di instalasi pengolahan limbah atau aquarium. Arang ini juga dapat dipasarkan sebagai produk ramah lingkungan untuk penyaringan air.

Tantangan dan Harapan

Meski prospek pemanfaatan ikan sapu-sapu menjanjikan, sejumlah tantangan harus diatasi. Pertama, memastikan ikan yang diproses benar‑benar bebas dari logam berat. Kedua, membutuhkan investasi peralatan pirolisis dan fasilitas pengeringan yang memadai. Ketiga, edukasi kepada masyarakat tentang manfaat dan keamanan produk olahan ikan sapu-sapu masih diperlukan.

Pramono menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menyediakan dana awal dan memfasilitasi kerjasama dengan lembaga riset serta sektor swasta. Diharapkan, dalam jangka menengah, tim khusus dapat menurunkan populasi ikan sapu-sapu secara signifikan, sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru bagi pelaku UMKM di sekitar sungai.

Langkah ini juga selaras dengan kebijakan nasional tentang pengelolaan limbah dan pemanfaatan sumber daya alam berkelanjutan. Jika berhasil, model tim khusus ini dapat direplikasi di kota‑kota lain yang menghadapi masalah invasif serupa.

Dengan sinergi antara pemerintah, peneliti, dan masyarakat, diharapkan Jakarta dapat mengubah tantangan ekologis menjadi peluang inovatif yang mendukung ketahanan pangan, lingkungan bersih, dan pertumbuhan ekonomi lokal.

Exit mobile version