Keuangan.id – 23 April 2026 | Praja TNI yang bernama Praka Farizal Rhomadhon Momen Fafa Nur Azila, atau lebih dikenal sebagai Praka Farizal, diperkirakan akan kembali ke tanah air pada bulan Mei setelah menyelesaikan penugasan di misi penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIFIL) di Lebanon. Rencana pulang ini muncul di tengah serangkaian peristiwa kelam yang menimpa kontingen Indonesia di wilayah konflik selatan Lebanon sejak awal Maret 2026.
Latar Belakang Penugasan di Lebanon
UNIFIL, yang dibentuk pada tahun 1978 oleh Dewan Keamanan PBB, bertugas memantau gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah serta melindungi penduduk sipil. Indonesia merupakan kontributor terbesar dalam pasukan ini, mengirimkan ribuan prajurit dari berbagai satuan, termasuk Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti yang menjadi rumah bagi Praka Farizal.
Serangkaian Insiden Fatal
Sejak 2 Maret 2026, ketegangan di perbatasan selatan Lebanon meningkat tajam setelah Israel melancarkan serangan udara dan darat. Hingga akhir April, lima prajurit UNIFIL—tiga dari Indonesia dan dua dari Prancis—telah gugur. Insiden paling mematikan terjadi pada 29 Maret, ketika artileri menembak posisi UNP 7-1 di Adchit al‑Qusyar, menewaskan Praka Farizal. Ia ditembak secara langsung saat sedang melakukan patroli rutin, meninggalkan keluarga dan rekan-rekannya dalam duka mendalam.
Selain Praka Farizal, dua prajurit Indonesia lainnya, Mayor Infanteri Zulmi Aditya Iskandar dan Sersan Muhammad Nur Ichwan, tewas dalam ledakan konvoi pada 30 Maret di dekat Bani Hayyan. Di pihak Prancis, Sersan Kepala Florian Montorio gugur pada 18 April saat membersihkan ranjau, dan Kopral Kepala Anicet Girardin meninggal pada 22 April akibat luka serius yang diderita pada serangan yang sama.
Dampak Bagi Keluarga dan Rekan Sejawat
Keluarga prajurit yang gugur, termasuk istri Praka Farizal, Nur Azila, telah menyaksikan proses pemakaman yang penuh haru di Taman Makam Pahlawan Giripeni, Kulon Progo. Upacara tersebut dihadiri oleh pejabat militer, rekan satuan, dan warga setempat yang menegaskan rasa hormat serta solidaritas nasional terhadap para pahlawan yang mengorbankan nyawa demi perdamaian.
Rekan-rekan prajurit di lapangan menggambarkan Praka Farizal sebagai sosok yang disiplin, cekatan, dan selalu siap membantu. “Ia selalu menjadi contoh bagi kami, tak hanya dalam hal taktik, tetapi juga dalam semangat kebangsaan,” ujar seorang rekan satuan yang enggan disebutkan namanya demi menjaga privasi.
Rencana Pulang dan Proses Administratif
Setelah penugasan selesai, proses repatriasi prajurit biasanya melibatkan koordinasi antara Kementerian Pertahanan, Kedutaan Besar Indonesia di Beirut, dan otoritas penerbangan sipil. Menurut pejabat militer yang tidak dapat disebutkan namanya, prosedur ini mencakup pemeriksaan medis menyeluruh, klarifikasi dokumen keimigrasian, serta penataan logistik transportasi. Praka Farizal diperkirakan akan kembali melalui bandara internasional Beirut, kemudian dilanjutkan ke Jakarta dengan pesawat militer atau komersial yang disediakan pemerintah.
Selama menunggu kepulangan, Praka Farizal masih menjalani perawatan medis ringan untuk mengatasi trauma fisik dan psikologis akibat serangan artileri. Tim medis PBB memberikan dukungan psikologis untuk membantu prajurit pulih secara menyeluruh sebelum kembali ke tanah air.
Implikasi Bagi Misi UNIFIL Kedepannya
Kehilangan lima prajurit dalam waktu singkat menimbulkan pertanyaan serius mengenai keamanan dan kesiapan misi UNIFIL ke depan. Pihak PBB berjanji akan meninjau kembali protokol perlindungan, termasuk peningkatan armamentasi defensif dan penempatan titik pengawasan tambahan di zona rawan tembak.
Meski tantangan terus meningkat, Indonesia tetap berkomitmen untuk mempertahankan kehadirannya di UNIFIL, mengingat pentingnya peran Indonesia dalam menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah. Pemerintah menegaskan bahwa setiap prajurit yang kembali akan menerima penghargaan dan dukungan penuh, baik secara moral maupun material.
Dengan kepulangan yang dijadwalkan pada Mei, Praka Farizal tidak hanya membawa kembali pengalaman tempur yang berharga, tetapi juga menjadi simbol ketangguhan prajurit Indonesia di panggung internasional. Kehadiran dan pengorbanannya akan terus dikenang, sekaligus menjadi motivasi bagi generasi militer berikutnya untuk terus berbakti pada negara.











