Keuangan.id – 11 Maret 2026 | Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan pada tasyakuran Hari Ulang Tahun pertama Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara di Wisma Danantara, Jakarta, bahwa lembaga yang dibentuk pada Februari 2025 kini telah menembus jajaran enam terbesar Sovereign Wealth Fund (SWF) dunia. Pernyataan itu sekaligus menyoroti target ambisius Danantara untuk menyetor dividen sebesar Rp800 triliun (sekitar USD 50 miliar) ke kas negara setiap tahun.
Kinerja Tahun Pertama: ROA Mencapai 300 %
Menurut data resmi yang dipaparkan oleh CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, Return on Assets (ROA) Danantara meningkat hingga 300 % pada tahun 2025. Peningkatan tersebut mencerminkan keberhasilan restrukturisasi portofolio Badan Usaha Milik Negara (BUMN) serta pelaksanaan strategi “streamlining” meliputi likuidasi, merger, dan divestasi aset yang tidak strategis.
| Tahun | ROA | Dividen yang Diharapkan |
|---|---|---|
| 2025 | 300 % | Rp 800 triliun (target) |
| 2026 (target) | 5-10 % | USD 50 miliar / Rp 800 triliun |
Landasan Kelembagaan dan Tata Kelola
Selama 12 bulan pertama, Danantara fokus pada pembangunan fondasi kelembagaan. Lebih dari 27 kebijakan tata kelola telah disusun untuk memastikan transparansi, akuntabilitas, dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan. Upaya tersebut didukung oleh struktur pengawasan yang luas, melibatkan kementerian, BPK, BPKP, Kejaksaan, Polri, hingga Panglima TNI.
- Pengawasan internal oleh Dewan Pengawas yang mencakup hampir semua Menko.
- Partisipasi BPK dan BPKP dalam audit rutin.
- Penunjukan utusan khusus presiden untuk mengawasi tiap BUMN dalam ekosistem Danantara.
Peran Strategis dalam Ketahanan Nasional
Prabowo menekankan bahwa Danantara bukan sekadar pengelola kekayaan negara, melainkan “darahnya Indonesia”. Lembaga ini diharapkan menjadi motor penggerak program swasembada pangan dan energi, serta inisiatif sosial melalui Danantara Indonesia Trust Fund yang didirikan pada Oktober 2025. Trust Fund tersebut menyalurkan dana ke sektor pendidikan, kesehatan, serta air dan sanitasi.
Wanti‑Wanti Terhadap Risiko Kerugian SWF
Dalam pidatonya, Prabowo juga mengingatkan bahwa banyak SWF di negara kaya mengalami kerugian besar akibat manajemen yang lemah. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya disiplin portofolio dan prinsip tata kelola yang kuat untuk menghindari skenario serupa.
Prospek dan Tantangan Kedepan
Target jangka panjang Danantara adalah mencapai ROA 10-15 % per tahun, yang akan menambah nilai tambah bagi perekonomian nasional. Namun, Prabowo mengakui bahwa pencapaian tersebut masih memerlukan waktu, mengingat Danantara baru beroperasi satu tahun. Tantangan utama meliputi volatilitas pasar global, kebutuhan restrukturisasi BUMN yang kompleks, serta tekanan politik untuk menjaga independensi lembaga.
Secara keseluruhan, pencapaian tahun pertama Danantara menunjukkan potensi besar dalam mengoptimalkan aset negara. Keberhasilan selanjutnya akan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan, kualitas pengawasan, dan kemampuan beradaptasi terhadap dinamika ekonomi global.











