Pertumbuhan Kredit Baru Melambat, OJK dan BI Ungkap Strategi Pemulihan

Pertumbuhan Kredit Baru Melambat, OJK dan BI Ungkap Strategi Pemulihan
Pertumbuhan Kredit Baru Melambat, OJK dan BI Ungkap Strategi Pemulihan

Keuangan.id – 11 Mei 2026 | Pertumbuhan kredit baru di triwulan I 2026 menunjukkan perlambatan, namun Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tetap optimis dengan strategi pemulihan yang telah diterapkan.

BI mencatat bahwa posisi uang primer pada April 2026 tumbuh sebesar 14,3 persen, mencapai Rp 2.232,2 triliun. Pertumbuhan ini dipicu oleh kenaikan giro bank umum sebesar 21,6 persen serta uang kartal 14,6 persen. Kondisi ini mencerminkan stabilitas likuiditas nasional tetap terjaga guna mendukung aktivitas ekonomi yang produktif di masyarakat.

Pertumbuhan Uang Primer dan Kredit

Uang kartal yang diedarkan pada April 2026 menyentuh angka Rp 1.301,1 triliun. Dari total tersebut, jumlah uang yang beredar di luar bank umum dan Bank Perekonomian Rakyat (BPR) mencapai Rp 1.195,6 triliun. Sedangkan, uang tunai yang tersimpan di internal perbankan tercatat sebesar Rp 105,5 triliun.

OJK melaporkan suku bunga kredit perbankan nasional turun menjadi 8,76 persen pada Maret 2026 akibat penurunan BI Rate. Penurunan suku bunga ini memicu efisiensi biaya dana dan mendorong penyaluran kredit pada sektor produktif serta investasi.

Strategi Pemulihan

OJK memastikan likuiditas perbankan memadai untuk mendukung sektor riil meskipun tetap mewaspadai risiko fluktuasi nilai tukar Rupiah. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengungkapkan bahwa penurunan suku bunga kredit terutama terjadi pada sektor produktif, baik Kredit Modal Kerja maupun Kredit Investasi.

Penurunan suku bunga ini merupakan dampak langsung dari transmisi kebijakan moneter. Dian menjelaskan bahwa penurunan BI Rate yang signifikan telah memicu efisiensi pada biaya dana (cost of fund). Hal ini selaras dengan biaya dana yang lebih rendah serta kebijakan BI Rate yang terus menurun dalam setahun terakhir.

Di tengah tren positif domestik, OJK tetap mewaspadai risiko eksternal. OJK berkomitmen memperketat pengawasan dan menginstruksikan perbankan untuk memperkuat mitigasi risiko melalui stress test guna menghadapi fluktuasi nilai tukar Rupiah.

Kondisi likuiditas perbankan saat ini sangat memadai untuk membiayai sektor riil. Optimisme ini diperkuat oleh indikator makroekonomi yang solid, di mana Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Maret 2026 bertahan di level 122,89 dan PMI Manufaktur Indonesia tetap berada di zona ekspansif pada posisi 50,1.

Menariknya, meskipun fasilitas kredit yang belum ditarik (undisbursed loan) secara nominal meningkat menjadi Rp2.527,46 triliun, persentasenya terhadap total kredit justru menurun dari 29,77 persen menjadi 29,19 persen. Fenomena ini menjadi sinyal positif bahwa penyerapan kredit oleh sektor produktif mulai meningkat, namun ruang pembiayaan baru masih terbuka sangat lebar.

Dengan strategi pemulihan yang tepat, diharapkan pertumbuhan kredit baru dapat kembali meningkat dan mendukung pemulihan ekonomi nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *