Pertamina Percepat Energi Baru Terbarukan di Tengah Gejolak Harga Minyak Global dan Krisis Selat Hormuz

Pertamina Percepat Energi Baru Terbarukan di Tengah Gejolak Harga Minyak Global dan Krisis Selat Hormuz
Pertamina Percepat Energi Baru Terbarukan di Tengah Gejolak Harga Minyak Global dan Krisis Selat Hormuz

Keuangan.id – 07 April 2026 | Jakarta – Menyikapi ketidakstabilan pasar energi dunia yang dipicu oleh gejolak harga minyak dan ketegangan di Selat Hormuz, Pertamina memperkuat komitmen untuk mengembangkan energi baru terbarukan (EBT). Langkah ini sekaligus menjadi respons strategis pemerintah Indonesia dalam mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil serta menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Langkah Strategis Pertamina

Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, menegaskan bahwa perusahaan akan meningkatkan investasi pada proyek‑proyek EBT, termasuk tenaga surya, tenaga angin, serta teknologi penyimpanan energi berbasis udara terkompresi. Fokus utama diarahkan pada integrasi sumber energi terbarukan ke jaringan listrik nasional, dengan target menambah kapasitas terpasang EBT sebesar 30 % pada akhir 2028.

Selain menambah kapasitas, Pertamina juga menyiapkan fasilitas penyimpanan energi skala besar yang dapat menampung kelebihan listrik pada jam non‑puncak. Teknologi penyimpanan udara terkompresi yang berhasil diimplementasikan di bekas tambang garam batu di Tai’an, Provinsi Shandong, China, menjadi contoh inspiratif. Di sana, udara terkompresi disimpan dalam danau bawah tanah selama delapan jam dan kemudian diubah menjadi listrik selama empat jam, menghasilkan cukup energi untuk lebih dari 200 000 rumah tangga setiap tahun.

Menanggapi Krisis Selat Hormuz

Krisis yang melanda Selat Hormuz pada awal April 2026 meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak mentah, mengingat sekitar 20 % perdagangan minyak dunia melewati jalur tersebut. Lonjakan harga minyak mentah berdampak langsung pada biaya produksi dan subsidi energi di Indonesia, memicu inflasi serta menekan nilai tukar rupiah.

Pemerintah Indonesia, bersama Pertamina, merespon dengan mempercepat program penghematan energi, termasuk kebijakan kerja dari rumah (WFH) bagi pegawai negeri serta kampanye pengurangan konsumsi BBM. Upaya ini diharapkan dapat menurunkan permintaan domestik terhadap minyak, memberikan ruang bagi EBT untuk lebih berperan dalam memenuhi kebutuhan listrik nasional.

Pengaruh Gejolak Harga Minyak Terhadap Ekonomi RI

Fluktuasi harga minyak dunia yang tajam mengakibatkan tekanan pada neraca perdagangan Indonesia. Kenaikan harga minyak mentah mengharuskan pemerintah menambah subsidi energi, yang pada gilirannya meningkatkan defisit anggaran. Di sisi lain, volatilitas pasar energi menimbulkan ketidakpastian bagi sektor industri, terutama yang bergantung pada bahan bakar fosil.

Dengan memperluas basis energi terbarukan, Pertamina berupaya mengurangi beban fiskal dan meningkatkan keamanan energi nasional. Proyek tenaga surya skala besar yang tengah dibangun di Nusa Tenggara Barat dan pembangkit listrik tenaga angin di Sulawesi tengah diproyeksikan dapat menyuplai listrik bagi jutaan rumah tangga, sekaligus mengurangi emisi karbon sebesar ratusan ribu ton per tahun.

Sinergi Internasional dan Inovasi Teknologi

Keberhasilan proyek penyimpanan energi udara di China menunjukkan potensi teknologi serupa untuk diterapkan di Indonesia, khususnya di wilayah dengan kondisi geologi yang mendukung, seperti bekas tambang batu bara atau tambang mineral. Kerjasama dengan perusahaan energi China, misalnya China Energy Engineering Group Co., Ltd., dapat mempercepat transfer pengetahuan dan pengembangan infrastruktur penyimpanan energi.

Selain itu, Indonesia juga meninjau peluang integrasi energi terbarukan ke jaringan listrik bawah laut, meniru skema pembangkit listrik tenaga bayu lepas pantai di Shanghai yang langsung memasok listrik ke pusat data bawah laut. Inovasi ini dapat meminimalkan kehilangan daya akibat transmisi jarak jauh dan meningkatkan efisiensi penggunaan energi terbarukan.

Dengan rangkaian inisiatif tersebut, Pertamina menegaskan bahwa transformasi energi tidak hanya menjadi slogan, melainkan agenda nyata yang didukung oleh kebijakan pemerintah, investasi swasta, serta kolaborasi internasional.

Ke depan, keberhasilan strategi EBT akan sangat bergantung pada kemampuan regulator dalam mempercepat perizinan, serta dukungan publik dalam mengadopsi pola konsumsi energi yang lebih berkelanjutan. Jika semua faktor ini berjalan selaras, Indonesia dapat memperkuat ketahanan energi, menurunkan beban fiskal, dan berkontribusi pada upaya global mengurangi emisi gas rumah kaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *