Keuangan.id – 02 April 2026 | Rupiah Indonesia ditutup melemah 19 poin, menyentuh level Rp17.002 per dolar AS pada perdagangan Kamis, 2 April 2026. Penurunan ini terjadi tak lama setelah mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan pernyataan yang memicu kekhawatiran investor terkait kebijakan moneter dan fiskal di AS.
Pernyataan Trump yang menyinggung kemungkinan penurunan suku bunga Federal Reserve serta kebijakan proteksionis memicu arus keluar dana dari pasar emerging, termasuk Indonesia. Analis pasar menilai bahwa sentimen negatif ini memperkuat dolar AS, sehingga rupiah mengalami tekanan jual.
Berikut beberapa faktor utama yang berkontribusi pada pergerakan nilai tukar hari itu:
- Pernyataan Trump tentang kebijakan moneter AS yang lebih longgar.
- Kekhawatiran akan peningkatan tarif impor barang dari Amerika.
- Data inflasi Indonesia yang masih di atas target, menambah tekanan pada Bank Indonesia.
- Aliran modal asing yang beralih ke aset berbasis dolar.
Data historis menunjukkan volatilitas nilai tukar dalam minggu terakhir:
| Tanggal | Kurs (IDR/USD) |
|---|---|
| 30 Mar 2026 | Rp16.983 |
| 31 Mar 2026 | Rp16.990 |
| 1 Apr 2026 | Rp16.997 |
| 2 Apr 2026 | Rp17.002 |
Bank Indonesia diperkirakan akan memantau perkembangan ini secara ketat, dengan kemungkinan intervensi pasar jika tekanan berlanjut. Sementara itu, pelaku pasar disarankan untuk memperhatikan indikator makro ekonomi global dan kebijakan luar negeri yang dapat memengaruhi arus modal.
Dengan kondisi ini, para analis menilai bahwa rupiah masih berada dalam zona rentan dan memerlukan dukungan kebijakan yang solid untuk menjaga stabilitas nilai tukar.











