Keuangan.id – 10 April 2026 | Danamart, platform fintech yang fokus pada layanan urun dana, resmi memperkenalkan skema blended finance pertama di Indonesia. Inisiatif ini ditujukan untuk memperluas akses investasi yang berlandaskan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) dengan memberikan mekanisme pembiayaan yang lebih aman bagi investor.
What is blended finance?
Blended finance merupakan kombinasi dana publik, dana institusional, dan modal swasta yang dirancang untuk menurunkan risiko investasi pada proyek-proyek berkelanjutan. Dengan menyatukan sumber dana yang berbeda, model ini dapat mengurangi kebutuhan jaminan ekuitas tinggi sekaligus meningkatkan daya tarik investasi ESG.
How Danamart implements the model
Melalui platform urun dana, Danamart memungkinkan investor individu maupun institusi untuk membeli unit investasi yang didukung oleh lapisan jaminan tambahan. Skema ini mencakup:
- Fasilitas garansi dari dana khusus yang dikelola bersama lembaga keuangan pemerintah.
- Penilaian risiko yang independen untuk setiap proyek ESG yang terdaftar.
- Transparansi pelaporan hasil sosial dan lingkungan secara berkala.
Setiap unit investasi dapat diperdagangkan secara likuid di pasar sekunder, memberikan fleksibilitas likuiditas bagi pemegang saham.
Potential impact
Dengan model blended finance, Danamart berharap dapat mengalirkan lebih dari Rp5 triliun ke dalam proyek-proyek ramah lingkungan selama tiga tahun ke depan. Pendanaan ini akan menargetkan sektor energi terbarukan, agrikultur berkelanjutan, serta teknologi bersih yang masih mengalami keterbatasan akses modal tradisional.
Pemerintah Indonesia melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menyatakan dukungan terhadap mekanisme pembiayaan inovatif ini, sejalan dengan agenda nasional untuk meningkatkan investasi ESG dan mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs).
Para analis memandang peluncuran blended finance oleh Danamart sebagai langkah penting dalam memperkuat ekosistem keuangan hijau di Tanah Air, sekaligus membuka peluang bagi investor ritel yang sebelumnya enggan terlibat karena risiko tinggi.
