Pergerakan Indeks INFOBANK15 di Tengah Koreksi IHSG

Pergerakan Indeks INFOBANK15 di Tengah Koreksi IHSG
Pergerakan Indeks INFOBANK15 di Tengah Koreksi IHSG

Keuangan.id – 16 Maret 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup sesi perdagangan pada Jumat, 13 Maret 2026, dengan penurunan sebesar 3,05% ke level 7.137,21, menurun dari 7.362,11 pada penutupan sebelumnya. Penurunan ini tidak lepas dari pelemahan serentak pada indeks-indeks utama domestik, termasuk IDX30 yang turun 2,16% menjadi 391,86, Sri-Kehati turun 2,20% ke 348,10, LQ45 turun 3,04% ke 728,33, dan JII melemah 3,93% menjadi 472,40.

Di antara indeks sektoral, INFOBANK15 – yang mengukur kinerja 15 saham perbankan dengan fundamental kuat dan likuiditas tinggi – juga mengalami penurunan. Pada penutupan, INFOBANK15 mencatat penurunan 1,77% ke angka 951,71, mencerminkan tekanan yang meluas pada sebagian besar saham perbankan.

Berikut adalah pergerakan utama saham-saham bank yang masuk dalam indeks INFOBANK15 pada hari tersebut:

  • Bank Mandiri (BMRI) turun 4,23% ke Rp4.750.
  • Bank Syariah Indonesia (BRIS) turun 3,62% ke Rp2.130.
  • Bank Aladin Syariah (BANK) turun 2,22% ke Rp440.
  • Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun 1,68% ke Rp3.510.
  • Bank Danamon Indonesia (BDMN) turun 1,58% ke Rp2.490.
  • Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (BJBR) turun 1,24% ke Rp795.
  • Bank Pan Indonesia (PNBN) turun 1,00% ke Rp990.
  • Bank Negara Indonesia (BBNI) turun 0,93% ke Rp4.240.
  • Bank BTPN Syariah (BTPS) turun 0,93% ke Rp1.065.
  • Bank Tabungan Negara (BBTN) turun 0,79% ke Rp1.260.
  • Bank OCBC NISP (NISP) turun 0,68% ke Rp1.455.
  • Bank CIMB Niaga (BNGA) turun 0,57% ke Rp1.755.
  • Bank Raya Indonesia (AGRO) turun 0,55% ke Rp180.
  • Bank Central Asia (BBCA) turun 0,36% ke Rp6.875.
  • Bank Jago (ARTO) tetap stagnan di Rp1.435.

Mayoritas saham bank menunjukkan koreksi yang sejalan dengan penurunan indeks pasar secara keseluruhan, menandakan sentimen negatif terhadap sektor keuangan pada periode ini. Hanya saham Bank Jago yang mampu mempertahankan posisinya tanpa mengalami penurunan berarti.

Secara umum, tekanan pada pasar saham Indonesia dipicu oleh faktor eksternal seperti sentimen global, kebijakan moneter, dan kekhawatiran atas pertumbuhan ekonomi. Bagi investor, kondisi ini menuntut pendekatan yang lebih berhati-hati, terutama dalam menilai fundamental perusahaan perbankan dan menyesuaikan alokasi portofolio sesuai dengan volatilitas yang meningkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *