Keuangan.id – 02 April 2026 | Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) melalui perbankan pada kuartal pertama tahun 2026 belum menunjukkan percepatan yang diharapkan, meskipun target keseluruhan tahun mencapai Rp308 triliun.
Data internal menunjukkan bahwa hingga akhir Maret 2026, total pencairan KUR baru berada di kisaran Rp85 triliun, jauh di bawah 30% dari target tahunan. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas mekanisme penyaluran dan kesiapan bank dalam mendukung sektor produktif.
Bank BRI dan Bank Mandiri menjadi dua pelaku utama yang berhasil menyalurkan dana KUR paling signifikan. Kedua bank ini memfokuskan pendanaan pada sektor-sektor yang dianggap memiliki nilai tambah tinggi, seperti agribisnis, manufaktur, dan layanan digital.
| Bank | Pencairan KUR (Triliun Rp) | Sektor Unggulan |
|---|---|---|
| BRI | 35 | Agribisnis, UMKM |
| Mandiri | 30 | Manufaktur, Teknologi |
| Bank Lain | 20 | Beragam |
Strategi yang diterapkan BRI antara lain memperluas jaringan digital onboarding, memanfaatkan data alternatif untuk penilaian kelayakan kredit, serta menawarkan bunga subsidi bagi usaha mikro yang memenuhi kriteria produktivitas. Sementara Mandiri menekankan kolaborasi dengan fintech lokal untuk mempercepat proses verifikasi dan menurunkan biaya administrasi.
Beberapa tantangan yang masih menghambat percepatan penyaluran antara lain prosedur dokumen yang masih berlapis, keterbatasan data keuangan bagi pelaku usaha informal, serta persaingan dengan program pembiayaan non‑bank yang menawarkan syarat lebih fleksibel.
Untuk mengatasi kendala tersebut, regulator diperkirakan akan memperkenalkan kebijakan simplifikasi prosedur, memperluas cakupan data alternatif, serta meningkatkan insentif bagi bank yang berhasil mencapai atau melampaui target KUR. Jika langkah-langkah ini diimplementasikan secara konsisten, diharapkan penyaluran KUR dapat memperoleh momentum yang lebih kuat pada paruh kedua tahun 2026.











