Keuangan.id – 18 April 2026 | Dolar Amerika Serikat (USD) mengalami pelemahan signifikan, mencatat level terendah dalam tujuh minggu terakhir setelah Selat Hormuz kembali beroperasi penuh. Penurunan tersebut mendorong indeks dolar (DXY) turun sebesar 2,1 persen, menandai pergeseran sentimen investor ke aset-aset berisiko.
Beberapa faktor yang berkontribusi meliputi:
- Pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz mengurangi kekhawatiran geopolitik terkait pasokan energi.
- Kebijakan moneter Federal Reserve yang diperkirakan akan lebih dovish di tengah data inflasi yang melonggar.
- Kenaikan permintaan aset berisiko seperti saham dan komoditas setelah periode ketidakpastian.
Penurunan indeks dolar tercermin dalam pergerakan mata uang utama dan komoditas. Pada penutupan sesi, nilai indeks dolar tercatat 102,5, turun dari 104,7 seminggu sebelumnya.
| Hari | Indeks Dolar (DXY) |
|---|---|
| Senin | 104,7 |
| Selasa | 103,9 |
| Rabu | 102,5 |
Implikasi penurunan dolar meluas ke pasar saham global, di mana indeks saham utama mencatat kenaikan 0,8 hingga 1,2 persen. Komoditas seperti minyak mentah dan emas juga mendapat dorongan, masing-masing naik sekitar 1,5 persen dan 0,9 persen.
Para analis memperkirakan bahwa selama ketegangan geopolitik tetap terkendali, dolar dapat terus menghadapi tekanan. Namun, kebijakan suku bunga Federal Reserve tetap menjadi faktor kunci yang dapat membalikkan tren ini bila inflasi menunjukkan peningkatan kembali.











