Keuangan.id – 01 Mei 2026 | NZICC Jababeka (Kawasan Industri Jababeka, KIJA) kembali menjadi sorotan publik setelah mengumumkan ambisi mencapai net zero pada tahun 2030. Namun, laporan keberlanjutan 2024 mengungkap peningkatan signifikan pada emisi karbon dan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) yang menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi komitmen hijau perusahaan.
Paradoks Hijau NZICC Jababeka
Istilah “Paradoks Hijau” muncul karena target net zero yang ambisius tampak berlawanan dengan data terbaru: emisi CO2 industri dalam kawasan naik sekitar 12 % dibandingkan tahun 2023, sementara penggunaan BBM meningkat 8 %. Kenaikan ini dipicu oleh ekspansi pabrik-pabrik logam, semen, dan petrokimia yang mengandalkan energi fosil.
Faktor Penyebab Lonjakan Emisi
- Ekspansi kapasitas produksi: Beberapa tenant menambah lini produksi baru tanpa investasi bersamaan dalam teknologi rendah karbon.
- Keterbatasan energi terbarukan: Pada 2024 hanya 15 % kebutuhan listrik kawasan yang dipenuhi oleh tenaga surya dan biomassa.
- Kebijakan energi internal: Tidak ada mekanisme penalti yang efektif bagi perusahaan yang melebihi batas emisi.
Strategi Net Zero yang Diumumkan
NZICC Jababeka menyatakan tiga pilar utama untuk mencapai net zero: (1) meningkatkan proporsi energi terbarukan hingga 40 % pada 2027, (2) mengadopsi teknologi carbon capture pada pabrik-pabrik berat, dan (3) mengoptimalkan efisiensi bahan bakar melalui program audit energi tahunan.
| Tahun | Emisi CO2 (kt) | Penggunaan BBM (rib kl) |
|---|---|---|
| 2022 | 1 200 | 350 |
| 2023 | 1 340 | 380 |
| 2024 | 1 500 | 410 |
Reaksi Pemerintah dan Publik
Pemerintah Indonesia menyambut baik rencana net zero namun menekankan pentingnya transparansi data dan pelaporan independen. LSM lingkungan menilai bahwa “paradoks hijau” ini harus diatasi dengan kebijakan yang lebih tegas, termasuk pajak karbon dan insentif bagi investasi energi bersih.
Secara keseluruhan, meski NZICC Jababeka memiliki visi yang selaras dengan agenda iklim nasional, realitas peningkatan emisi dan konsumsi BBM menimbulkan tantangan besar. Keberhasilan ambisi net zero akan sangat bergantung pada pelaksanaan strategi yang terukur, dukungan regulasi, serta komitmen bersama antara pemerintah, industri, dan masyarakat.







