Keuangan.id – 15 Mei 2026 | Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) membuat industri perbankan semakin berhati-hati dalam menyalurkan kredit valuta asing (valas).
Kondisi ini mendorong bank untuk lebih selektif memilih debitur, terutama di tengah tingginya volatilitas global dan penguatan dolar AS.
Penyaluran Kredit Valas
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, mengatakan pelemahan rupiah meningkatkan risiko kredit valas, khususnya bagi debitur yang memiliki kewajiban dalam dolar AS namun sumber pendapatannya masih berbasis rupiah.
"Dalam kondisi seperti ini, bank hampir pasti akan lebih selektif menyalurkan kredit valas dan cenderung memprioritaskan sektor yang memiliki natural hedge seperti eksportir, komoditas, migas, maupun perusahaan dengan arus kas dolar," ujar Rizal.
Menurut Rizal, tekanan global yang dipicu suku bunga AS yang masih tinggi, penguatan dolar AS, hingga capital outflow dari emerging market membuat perbankan lebih fokus menjaga kualitas aset dibanding melakukan ekspansi kredit secara agresif.
Rasio Kredit Bermasalah
Rizal menilai pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) kredit valas, terutama pada sektor yang bergantung pada impor bahan baku namun tidak memiliki fleksibilitas untuk segera menyesuaikan harga jual.
"Ketika kurs naik, beban cicilan dan biaya produksi ikut meningkat sehingga arus kas debitur menjadi lebih rentan," katanya.
Meski demikian, Rizal menyebut secara industri rasio NPL perbankan masih relatif terjaga.
Namun, apabila tekanan terhadap rupiah berlangsung dalam jangka waktu panjang, risiko kredit di sejumlah sektor diperkirakan mulai meningkat.
Proyeksi Penyaluran Kredit Valas
Di sisi lain, penyaluran kredit valas diproyeksikan masih mencatat pertumbuhan sepanjang tahun ini, meskipun lajunya diperkirakan lebih moderat dibanding periode sebelumnya.
Permintaan kredit masih datang dari sektor perdagangan internasional, energi, hingga industri berbasis impor.
"Volatilitas nilai tukar dan mahalnya biaya dana global membuat bank lebih berhati-hati dalam ekspansi.
Selain itu, tekanan likuiditas dolar domestik juga dapat membuat cost of fund valas meningkat," jelas Rizal.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, Rizal menyarankan perbankan memperkuat mitigasi risiko dan menjaga prinsip kehati-hatian.
Salah satunya melalui pengetatan stress test terhadap debitur yang memiliki eksposur dolar AS serta memperbesar penggunaan instrumen lindung nilai atau hedging.
"Dalam situasi seperti sekarang, menjaga kualitas kredit dan stabilitas likuiditas jauh lebih penting dibanding memaksakan pertumbuhan kredit yang terlalu agresif," imbuhnya.
Sejumlah bank pun mulai menyesuaikan strategi bisnis untuk menghadapi volatilitas nilai tukar.
PT Bank Central Asia Tbk mencatat penyaluran kredit valas per Maret 2026 mencapai Rp 48,9 triliun atau tumbuh 2,9% secara tahunan (YoY).
Dalam beberapa tahun terakhir, industri perbankan di Indonesia telah mengalami pertumbuhan yang signifikan, namun pelemahan rupiah dan volatilitas global membuat bank harus lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit valas.
Oleh karena itu, perbankan perlu memperkuat mitigasi risiko dan menjaga prinsip kehati-hatian untuk menghadapi kondisi yang tidak pasti ini.
